‘Intel’ Kuliner Awasi Pedagang Malioboro

0
1975
bonvoyagejogja.com

Buat anda yang berencana menghabiskan libur Natal dan tahun baru di Yogyakarta, tidak perlu lagi khawatir jika memutuskan untuk makan-makan di kawasan Malioboro.

Memasuki liburan Natal dan tahun baru, Pemerintah Kota Yogyakarta akan menindak tegas warung lesehan di kawasan Malioboro yang mematok harga tak wajar.

Lesehan Malioboro

Pemerintah menyiapkan puluhan satuan petugas khusus berpakaian sipil untuk menyamar, mengawasi aktivitas perdagangan warung lesehan dan kaki lima di Malioboro.

“Kami sudah siapkan satgas khusus yang menyamar sebagai pengunjung dan bertugas mengawasi ketat bagaimana para pedagang Malioboro mematok harga pada wisatawan,” kata Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, 16 Desember 2018.

Menurut Haryadi Suyuti, dengan adanya satgas yang menyamar segala aktivitas perdagangan yang berpotensi merusak citra pariwisata di Yogyakarta seperti mematok harga tidak wajar dapat langsung ditindak.

“Mereka yang terpergok petugas jika terbukti nakal akan kami tindak tegas,” ujar Wali Kota.

Haryadi menuturkan, petugas yang menyamar bukan bagian dari Unit Pelaksana Teknis Malioboro yang sehari hari berpatroli dan sudah dikenali para pedagang. Satgas khusus ini bentukan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Lokasi sebaran satgas yang menyamar dari ujung Malioboro sampai kawasan Titik Nol Kilometer hingga tiap ruas jalan sirip.

Mencegah Peristiwa 2017 Terulang

Haryadi berharap, peristiwa seperti tahun 2017 lalu tidak terulang. Saat itu sebuah warung lesehan di Jalan Malioboro ditutup paksa oleh petugas Unit Pelaksana Teknis Malioboro Yogyakarta karena terbukti menetapkan harga sewenang-wenang.

Saat itu penutupan paksa dilakukan setelah seorang pengunjung mengunggah bukti bon pembayaran usai makan di sebuah warung lesehan dan lantas viral di media sosial.

krjogja.com

“Selain satgas khusus ini, kami juga berharap para pengunjung ikut mengawasi dan melaporkan jika menemukan ada pedagang mematok harga tak wajar kepada petugas yang ditemui atau Unit Pelayanan Teknis Malioboro,” ujar Hartadi.

Haryadi pun meminta para pedagang menerapkan harga yang sesuai tercantum dalam daftar harga yang diketahui pengunjung. Agar pengunjung tak merasa ditipu.

Koordinator Keamanan dan Ketertiban Unit Pelaksana Teknis Malioboro Yogyakarta, Ahmad Syamsudi mengatakan warung lesehan di Malioboro yang ditutup paksa tahun lalu karena kedapatan menjual menu masakan goreng dan bakar yang harganya sangat tak wajar.

Dari bon pembayaran yang diunggah pengunjung tercantum 4 potong ayam goreng dihargai Rp 120 ribu, dua porsi nasi gudeg Rp 90 ribu, dua gelas es jeruk Rp 18 ribu, empat gelas teh manis Rp 32 ribu. Dalam bon itu total harga yang harus dibayar pengunjung untuk sembilan item menu yang dipesan hampir Rp 490 ribu termasuk pajak 10 persen.

“Harga yang diterapkan warung itu sudah masuk kategori ngepruk (memukul), enggak wajar karena selisihnya dengan daftar harga resmi yang dicantumkan sangat jauh,” ujar Ahmad.

Ahmad menuturkan, pihak UPT Malioboro sebenarnya bisa mentoleransi jika pedagang lesehan Malioboro menaikkan harga saat libur asalkan tetap dalam batas wajar, tak lebih dari 25 persen dari harga resmi tercantum. Misalnya segelas es teh pada hari biasa Rp 3 ribu, saat liburan lebaran menjadi Rp 4 ribu.

“Tapi warung yang ditutup waktu itu menaikan harga untuk segelas es teh atau es jeruk sampai Rp 9 ribu. Ini enggak wajar,” ujar Ahmad. (*)

Sumber: Tempo.co

LEAVE A REPLY