Wow, Seni Budaya Kamoro Papua Sukses Memukau Publik Swiss!

0
448
Foto: img.okeinfo.net

Traveler, seni dan budaya Kamoro yang berasal dari pesisir Mimika, Papua, berhasil memukau masyarakat Swiss. Tarian dan ukirannya berhasil menjadi magnet dalam kegiatan “Explore Remarkable Indonesia” yang digelar di Kultur & Sportzentrum-Pratteln, Swiss minggu lalu.

“Fokus acara `Explore Remarkable Indonesia 2018` adalah untuk mempromosikan produk-produk usaha kecil menengah (UKM) dari daerah di seluruh Indonesia sekaligus menampilkan promosi budaya baik tari maupun musik serta promosi pariwisata daerah,” ujar Ketua Perkumpulan Indonesia Swiss atau Verein Indonesia-Schweiz (VIS), Lina Schmidlin, seperti dikutip www.jpnn.com.

Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe (MWK), Luluk Intarti, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Yayasan Temata menampilkan seni dan budaya Kamoro.

Seni Budaya Kamoro Perlu Dilestarikan

Luluk Intarti menyatakan bahwa upaya memboyong budaya Kamoro ke mancanegara merupakan bagian penting dalam melestarikan budaya asal Papua, yang selama ini sangat minim diketahui masyarakat luas, baik nasional maupun internasional.

“Seni ukiran atau pahatan pada kayu, juga tari-tarian khas Kamoro, lambat laun pasti akan punah bila tidak dilestarikan,” kata Luluk.

Foto: www.tribunnews.com

Rombongan asal Mimika yang tampil di hadapan ratusan pengunjung yang memadati Kultur & Sportzentrum-Pratteln, terdiri dari Timo, selaku tokoh adat atau kepala suku serta pemahat dan juga penyanyi.

Selain itu juga ada Isak (pemahat dan penyanyi), Herman (pemahat dan penari), Elias dan Titus (penari). Mereka menggelar lokakarya hasil karya pahatan, sekaligus mempertontonkan sejumlah aksi tari-tarian Kamoro, yakni Po Tao (dayung), Tifa duduk/mbake, Mbikao (topeng roh), serta Waututa.

Salah satu suguhan unik yakni tarian Waututa yang mengisahkan kisah legenda tentang pertukaran telur burung Kasuari dan burung Maleo.

Aksi tari-tarian dibuka dengan pukulan tifa, yang dilanjutkan dengan lantunan lagu-lagu tentang cerita yang melegenda tersebut, yang dinyanyikan secara langsung oleh Timo.

Usai gelaran di Pratteln pada 10 April 2018, Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan Yayasan Temata bersama dengan para pemahat dan tokoh adat dari suku Kamoro akan bertolak ke St Gallen, Swiss, untuk menghadiri undangan warga setempat yang dikelola oleh VIS sekaligus mempromosikan seni dan budaya Papua.

LEAVE A REPLY