Wisata Penuh ‘Gizi’ di Taman Prasejarah Leang-Leang

0
450
Taman Prasejarah Leang-Leang di Kota Maros, Makassar, Sulawesi Selatan. Wisata sejarah penuh 'gizi'. (foto: http: nusantaraparadise.blogspot.co.id)

Di mana sih Taman Prasejarah Leang-Leang itu? Kawasan Leang-leang berada di perbukitan cadas (karst) yang disebutkan dalam www.wego.co.id, memiliki ratusan gua serta sejumlah lukisan dan peninggalan manusia prasejarah yang menghuni gua tersebut pada tahun 5.000 SM.

Tak semua wisatawan yang sering ke Makasar, Sulawesi Selatan, tahu tempat ini. Ketika berkunjung ke Kota Maros,  Taman Nasional Bantimurung lebih populer di sana.  Padahal, sebelum Taman Nasional Bantimurung itulah, letak Taman Prasejarah Leang-Leang berada. Pergi ke tempat ini, Anda akan mendapatkan wisata penuh ‘gizi’ dengan mempelajari berbagai peninggalan bersejarah ribuan tahun yang lalu.

Taman Prasejarah Leang-Leang, dalam tulisan www.arsy.co.id, menawarkan wisata sejarah budaya peradaban manusia purba. Tapak kehidupan manusia jaman prasejarah dapat ditelusuri di lokasi wisata ini. Lukisan telapak tangan manusia dan babi rusa yang terpampang di dinding-dinding gua serta beragam artefak menjadi bukti kehadiran manusia prasejarah di daerah ini.

Salah satu spot menarik di taman Prasejarah Leang-Leang. (foto: mydaypack.com)

Dalam Bahasa Makassar, ‘Leang’ artinya ‘Gua’, atau serupa ‘Liang’. Dinamakan demikian karena begitu banyak gua di Taman Prasejarah Leang-Leang ini. Di dalamnya terdapat lukisan-lukisan dinding dan juga perkakas dari jaman prasejarah.

Goa prasejarah di Leang-Leang ini menurut Barry Kusuma dalam Kompas.com sangat menarik, karena goa ini dulunya sebagai tempat tinggal dan penghuninya meninggalkan jejak dalam berbagai bentuk gambar di dinding goa.

Gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap tangan milik salah seorang anggota suku yang ditemukan di dinding gua. (foto: sijojomardika.blogspot.co.id)

Gambar goa dan cetakan tangan cukup unik, karena selain itu ada gambar-gambar yang mengambil bentuk babi hutan, ikan, manusia, dan bentuk tidak jelas lainnya yang ditemukan di daerah sekitar Leang Leang.

Dua arkeolog berkebangsaan Belandalah yang pertama menemukan lukisan-lukisan dinding di Gua Pettae dan Petta Kere pada tahun 1950. Lukisan prasejarah tersebut menceritakan kehidupan sosial, seperti aktivitas harian dan sistem kepercayaan yang dianut saat itu.

24 anak tangga menuju Leang Pettae di Taman Prasejarah Leang-Leang. (foto: jelajahsuwanto.blogspot.co.id)

Sementara gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap tangan milik salah seorang anggota suku usai ritual potong jari. Ritual ini dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Warna merah terlihat mendominasi lukisan dinding tersebut. Diperkirakan pewarna yang digunakan terbuat dari bahan alami yang dapat meresap hingga ke dalam pori-pori batu dan dapat bertahan hingga ribuan tahun.

Hmm,…mengingatkan pada tulisan sebelumnya, ‘Belajar Sejarah di Situs Purbakala Tapurarang, Kokas, Fakfak’. Bukankah, di sana juga ditemukan jenis lukisan yang hampir sama?

 

LEAVE A REPLY