Transit

0
599
Transit tak selamanya menjemukan. Ada banyak cara untuk menikmatinya. Tidur nyenyak pun bisa seperti di Changi Airport, Singapura. (Foto: changiairport.com)

Transit. Untuk Anda yang akan atau tengah melakukan perjalanan jauh dan terburu-buru pasti alergi mendengar kata ini. Banyak alasan yang menyertainya, seperti “wah nanti capek turun naiknya”, “tempat turun dan tempat naiknya jauh”, ” kelamaan nunggunya, kita nyampenya jadi telat” atau kalau yang harus transit dan ganti pesawat alasannya selalu “capek kalau harus keluar masuk imigrasi bisa nunggu berjam-jam, lama deh.”

Sebenarnya transit bisa menyenangkan, kalau kita tahu cara menyiasati dan menikmatinya. Apalagi kalau sedang melaksanakan perjalanan wisata yang tidak buru-buru. Kita bisa mampir-mampir di banyak bandara yang tentu saja dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Yang pasti kalau mau mengurangi biaya ongkos pesawat, perbanyaklah transit. Karena makin banyak ganti pesawat, ongkos akan makin jauh lebih murah. Penerbangan yang jarak waktunya singkat atau pendek-pendek banyak dilakukan oleh maskapai berbudget rendah atau istilah kerennya low cost airline, seperti Air Asia, Lion Air, Tiger Air, dan lain-lain.

Bandingkan saja ongkos pesawat Jakarta-Tokyo, kalau kita pilih penerbangan langsung, harga bisa di atas sepuluh juta rupiah untuk pergi-pulang. Tapi kalau kita transit di Singapura atau Kuala Lumpur, meskipun dengan pesawat yang sama, harga jadi lebih murah. Bisa dua pertiganya. Sekitar enam sampai delapan juta rupiah. Apalagi kalau kita menggunakan maskapai berbiaya rendah seperti tersebut di atas. Maka harga akan turun setengahnya di angka empat sampai dengan lima juta rupiah. Cukup berhemat banyak bukan?

Begitu juga kalau kita terbang ke Korea atau Hongkong. Kalau kita beli tiket pesawat yang transit di Singapura, Kuala Lumpur atau Bangkok maka harga pesawat yang kita bayar jauh lebih murah daripada kita terbang langsung ke tujuan.

Saya juga telah membandingkan penerbangan untuk melakukan ibadah umroh dan Timur Tengah seperti Istanbul, dan Kairo. Atau terbang ke Eropa dengan tujuan London, Amterdam, dan Paris. Kalau kita transit di Kuala Lumpur harga bisa selisih tiga sampai dengan empat juta dibandingkan kalau kita langsung ke Jeddah, Madinah, Istanbul, Kairo, London, Amsterdam, dan Paris. Padahal dengan pesawat yang sama.

Apalagi kalau kita terbang dan transit dua kali via Colombo – Dubai atau Abudhabi baru ke kota-kota tersebut di atas. Harga bahkan bisa jauh lebih murah lagi, dibandingkan yang hanya transit satu kali di Kuala Lumpur atau Singapura. Kelebihan uang biaya tiket bisa dipakai buat biaya hotel, makan, dan beli oleh-oleh untuk keluarga.

Untuk mengisi waktu saat transit ada banyak hal yang dapat kita lakukan. Kalau transitnya lama, misalkan lebih dari 6 atau sampai 12 jam. Kita bisa ikut city tour yang setengah hari atau satu hari. Banyak maskapai yang menyediakan paket tersebut seperti Egypt Air di Kairo atau Air Asia di Kuala Lumpur. Kalau tidak tersedia bisa beli paket di internet atau langsung beli paket di bandara. Ada paket yang full board termasuk makan. Ada juga yang hanya mengantarkan ke tempat-tempat pariwisata, dengan bus eksekutif lengkap bersama pemandu wisatanya. Tak perlu khawatir, dua jam sebelum keberangkatan kita sudah diantar kembali ke bandara. Kapan lagi kita bisa mengenal satu kota persinggahan sebelum sampai tujuan terakhir kita? Tentu saja wawasan kita tentang suatu kota akan bertambah.

Banyak gerai duty free yang tersedia seat Anda transit di Dubai Airport.(Foto: deal checker.co.uk)

Bagaimana jika tidak mau ikut city tour dan ingin istirahat? Carilah sofa-sofa panjang yang sudah disiapkan di sejumlah bandara seperti di Mumbai, Dubai, Abu Dhabi, dan Kuala Lumpur.

Lalu, kalau transitnya hanya sebentar di rentang waktu 3-5 jam? Banyak hal yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau di bandara seperti Changi Singapura, Haneda Tokyo, Doha Qatar, Hongkong, Dubai, Abu Dhabi atau KLIA Kuala Lumpur. Masing-masing airport menyediakan banyak fasilitas buat transit. Kalau merasa gerah kita bisa membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia. Atau pergi ke mushola untuk melakukan ibadah shalat bagi yang muslim. Bisa juga nonton film di mini studio.

Buat yang hobi baca, bawa buku dari rumah dan cari sofa yang empuk buat selonjoran sambil baca buku. Buat yang merasa capek dan pegal-pegal karena perjalanan jauh bisa cari tempat pijat dan mengambil paket pijat setengah jam atau satu jam sambil tiduran.

Buat yang suka belanja bisa jalan-jalan window shopping di toko bebas cukai atau duty free dan bandingkan dengan harga-harga di bandara-bandara lainnnya. Atau yang suka nongkrong bisa cari kafe yang enak buat ngopi atau ngeteh sekadar bergosip bareng teman seperjalanan atau sambil memperhatikan orang yang lalu lalang dengan segala tingkah lakunya yang kadang cukup menghibur dan bikin ketawa. Hehe. Tentu semua mempunyai keasyikan sendiri. Tergantung apa yang kita suka.

Jadi sebenarnya transit bisa jadi membuat perjalanan kita makin irit, makin berwarna, menambah wawasan, dan makin menyenangkan. Tentu saja kalau kita bisa menyiasati dan menikmatinya.

Zahrudin Haris

 

 

SHARE
Previous articleStand On The Right
Next articlePurwakarta Tak Lagi Sekadar Kota Transit
Zahrudin Haris mencintai travelling sepenuh hati. Sudah banyak tempat yang ia singgahi baik di Indonesia dan mancanegara. Sebagai salah satu wujud rasa cintanya pada dunia wisata ia dirikan traveltodayindonesia.com

LEAVE A REPLY