Tips Agar Sesuatu yang ‘Instagramable’ Tidak Merusak Mood Berwisata

0
34
Instagramable? Mestinya. Namun perilaku wisatawan yang buruk mengubah Labuan Bajo jadi rusak dalam waktu sekejap. (foto: bisniswisata.co.id)

Traveler, pernahkan terdorong berwisata karena tergiur  foto yang Instagramable? Atau Anda memburu destinasi wisata karena hampir semua artikel wisata memberi iming-iming tempat yang Instagramable?

Sebab, berdasar info perusahaan perjalanan Topdeck, sebanyak 18 persen pelancong berusia 18-30 tahun memutuskan berwisata karena hal tersebut.

Pasangan Jess Last dan Charlie Wild asal London, Inggris, bahkan berkeliling dunia dengan referensi dari Instagram. Mereka mengabadikan momen penting lewat akun Instagram bernama The Travel Project sebagai rekomendasi wisata bagi pelancong lain.

“Kami banyak bertukar pikiran dan pengetahuan dengan penggemar perjalanan lain dan orang-orang kreatif lokal di seluruh dunia. Semua itu membuka kemungkinan kami untuk bertualang dan menjelajah ke tempat-tempat yang kurang dikenal,” ungkap Jess, seperi dilansir Republika.

Mencari referensi lewat media sosial memang sah-sah saja dilakukan, tidak ada salahnya juga membagikan foto perjalanan sesudahnya. Asalkan, jangan sampai apa yang dilihat atau ingin dibagikan via Instagram merusak mood berwisata Anda.

Bagi para blogger, fotografer, jurnalis, atau penggemar perjalanan seperti Jess dan Charlie, hal itu bisa dimengerti. Namun, pelancong yang sekadar berburu tempat Instagrammable perlu mengajukan beberapa pertanyaan penting kepada dirinya saat berwisata.

Anda harus paham diri Anda sendiri, apakah Anda benar-benar menikmati momen perjalanan atau hanya mencemaskan foto bagus yang harus diambil?

Jika jawabannya adalah poin kedua untuk narsis serta pencitraan personal, maka sudah jelas seperti apa efek negatif sesuatu yang Instagramable bagi kita.

Bisa saja kita terlibat jadi salah satu pengrusak lingkungan lho Traveler! Sebab wisatawan berbondong datang ke tempat yang Anda unggah tanpa perilaku yang benar.

Atau sebaliknya, bisa saja Anda jadi ‘korban’ gambar ‘Instagramable’ sebab kurang mencari info lebih dalam mengenai tempat bersangkutan.

Pakar eco-travel Sarah Reid menyoroti  dampak buruk Instagram terhadap lingkungan. Misalnya, wisatawan yang memberi makan hewan liar agar mau mendekat untuk swafoto atau hasil foto tertentu yang malah berpotensi menyuburkan bisnis perdagangan hewan yang dilindungi.

Belum lagi, para wisatawan yang mengabaikan peringatan di monumen kuno hanya demi mendapat sudut foto yang tepat.

Reid paham pelancong ingin mengabadikan foto terbaik selama perjalanan tetapi tidak harus dengan cara berlebihan yang menimbulkan kerusakan terhadap destinasi wisata.

“Sebelum mengambil foto di mana pun, cari tahu mengenai budaya dan kebiasaan setempat seperti cara berpakaian atau larangan tertentu. Tidak ada swafoto yang layak mengorbankan integritas lingkungan atau monumen buatan manusia,” ujar Reid, dikutip dari laman Refinery29.

LEAVE A REPLY