Ternyata Wisatawan Eropa Memiliki Minat Besar Pada Desa Wisata Lho!

0
342
Mirip di luar negeri. Fatumnasi, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Lena Vi/Twitter)

Traveler, ternyata wisatawan mancanegara dari Eropa memiliki minat yang lebih besar untuk mengunjungi desa-desa wisata lho!

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Mesakh Toy mengungkapkannya Selasa kemarin (27/3).

Menurutnya, minat wisatawan asing berkunjung ke desa-desa wisata penting dipertahankan karena daya tarik yang ada sudah terbukti membuat wisatawan bisa berlama-lama berkunjung ke daerah itu.

Keaslian Budaya dan Alam yang Natural

“Market utama desa wisata kita di NTT lebih banyak diminati turis mancanegara dari Eropa, misalnya dari 100 wisatawan yang kami layani lebih dari 60 persen di antaranya dari Eropa,” kata Mesakh Toy di Kupang seperti dilansir Antara.

Festival Likurai Timor, kekayaan adat budaya yang diminati wisatawan Eropa. (Foto: www.pesonaindo.com)

Sejumlah wisatawan mancanegara yang lebih dominan dilayani para pemandu wisata dari HPI NTT, menurut data Mesakh, berasal dari negara-negara seperti Italia, Jerman, Belanda, Spanyol.

“Mereka meminati desa-desa wisata di provinsi ini karena keaslian budaya yang dipertahankan serta didukung alam yang masih natural,” kata Mesakh sambil mencontohkan sejumlah desa adat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Pulau Timor, yaitu Fatumnasi, Benteng None dan Desa Boti.

Kata Mesakh selanjutnya, di Fatumnasi, ada rumah adat obet bobo (rumah bulat) yang unik dan didukung pemandangan alam Pegunungan Mutis yang menambah daya tariknya.

“Ada wisatawan dari Eropa yang kami layani bisa sampai dua minggu di Pulau Timor, kemudian pindah ke desa di Sabu, Rote, Alor dan lainnya,” katanya.

Wisatawan menikmati hari-harinya di Desa Boti. (Foto: gemala.me)

Keberadaan Desa Wisata Diperkuat

Ia mengatakan keberadaan desa-desa wisata perlu diperkuat, tidak hanya pembangunan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, jaringan telekomunikasi, namun yang lebih utama terkait kesiapan masyarakatnya.

Selain itu, jika ada tempat penjualan souvenir di desa wisata maka warga perlu dibina agar tidak menaikkan harga barang jualannya ketika hendak dibeli wisatawan.

“Ini hal sederhana namun penting diperhatikan, kalau harga satu buah produk kerajinan tangan Rp5.000 tapi karena ada wisatawan asing tiba-tiba menjadi Rp10.000 maka wisatawan akan merasa tidak nyaman,” katanya.

Juga perlu diperhatikan,  dari tata cara masyarakat desa wisata menerima tamu harus dibimbing secara baik. Selain itu bagaimana menjaga aspek Sapta Pesona  yakni; aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan.

LEAVE A REPLY