Tenun Sekomandi Khas Kalumpang yang Minim Pengrajin

0
273
Tenun Sekomandi khas Kalumpang yang minim pengrajin karena kerumitan proses pembuatannya. (foto: PictaStar.com)

Tenun Sekomandi adalah salah satu kain tenun ikat di Kalompang. Tenun Sekomandi merupakan warisan leluhur masyarakat Kalumpang yang bernilai sejarah dan kaya akan nilai budaya lokal, mungkin masih belum dikenal luas.

Kain tenun Sekomandi lahir yang secara turun-temurun menjadi warisan budaya masyarakat Kalumpang, juga sebagai salah satu kebanggan masyarakat Kabupaten Mamuju. Kalumpang sendiri terletak 85 kilometer arah Timur, Kota Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, merupakan wilayah perdagangan dengan berbagai peninggalan arkeologi sehingga wajar jika disebut sebagai pusat awal peradaban di Pulau Sulawesi.

Tenun Sekomandi ditenun secara tradisional dan menggunakan bahan pewarna dari berbagai jenis tanaman, seperti jahe, lengkuas, cabai, kapur sirih, laos, kemiri, juga beragam dedaunan, akar pohon, serta kulit kayu, kemudian ditumbuk halus dan dimasak.

Untuk mendapatkan warna yang benar-benar bagus, benang direndam berulang-ulang dalam larutan pewarna selama satu bulan sehingga memperkuat warna dan agar warna tidak mudah luntur.

Pengrajin Tenun Sekomandi menunjukkan proses pembuatan tenun yang rumit dan sarat budaya. (foto: Antara)

“Proses pembuatan kain tenun Sekomandi memang membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga pengrajin harus memiliki keahlian dan itu didapatkan masyarakat Kalumpang secara turun-temurun selama ratusan tahun,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mamuju Sahari Bulan dalam Antara.

Dengan bahan alami yangg terbatas dan proses penenunan yang rumit, tenun Sekomandi tidak bisa diproduksi dalam jumlah massal sekaligus.

Sekomandi merupakan kain tenun ikat yang diproses cara mengikat lilitan benang tersebut ke dinding. Tahap pembuatannya terbagi menjadi tiga, yakni pemintalan, pewarnaan benang, dan penenunan sehingga prosesnya bisa mencapai waktu yang cukup lama.

Satu hal yang unik dari Sekomandi ini adalah, proses pembuatan motifnya tidak menggunakan sketsa di atas benang. Motif yang ada dalam kain ini murni berasal dari imajinasi sang penenun yang menggambar sketsa dalam kepalanya sekaligus bekerja menggunakan tangan.

Uniknya lagi, motif yang dibuat bukan sembarang motif. Motif-motif tersebut ada jenisnya dan memiliki makna. Beberapa jenis motif diataranya adalah ulu karua kaselle, ulu karua barinni, toboalang, rundung lolo, atau leleq sepu.

Hasil Tenun Sekomandi yang merupakan corak tenun tertua di Sulawesi Barat. (foto: kompadansamandar.blogspot.co.id)

Tenun Sekomandi pada zaman dulu selain digunakan sebagai pakaian tradisional, juga dipakai sebagai alat barter.

“Karena bahan dasarnya dari rempah-rempah sehingga jika digunakan akan terasa perih di badan. Jadi, kain tenun Sekomandi lebih banyak digunakan untuk membuat taplak meja, gorden dan perlengkapan lainnya,” tutur Sahari Bulan.

Hal yang sangat disayangkan adalah jumlah penenun Sekomandi yang semakin lama semakin sedikit. Kalumpang sendiri, tempat di mana kain ini berasal, penenun Sekomandi hanya tersisa dua orang, sementara secara keseluruhan, di tiga daerah, Kalumpang, Malolo, dan Batuisi, penenun Sekomandi hanya sekitar 30 orang saja.

“Pengrajin kain tenun Sekomandi memang tidak banyak, selain karena dalam proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama, juga minat generasi muda untuk menekuni dunia kerajinan sangat kecil. Inilah yang akan kami kembangkan dengan mendorong generasi muda agar dapat mencintai kearifan lokal melalui kerajinan khas daerah,” ujar Sahari Bulan.

 

Sumber: Antara

LEAVE A REPLY