Tanjung Puting, Destinasi Wisata Lokal Rasa Internasional (3)

0
402

Perjalanan di Tanjung Puting terus berlanjut. Matahari telah turun. Langit berwarna jingga. Siluetnya membayang mewarnai sungai. Menikmati sunset dari atas perahu terasa sangat berbeda. Bekantan satu-satu mulai kembali ke sarangnya. 

Tour guide memberi tahu kami kalau kapten akan mencari tempat bersandar untuk melepas jangkar. Perahu berjalan pelan memecah sungai di keheningan jelang malam hutan kalimantan. Saya berasa seperti berada di dalam film-film petualangan yang menyusuri sungai amazon di Amerika Selatan sana.

Memancing Ikan di Sungai Buaya

Jangan lewatkan: Tanjung Puting, Destinasi Wisata Lokal Rasa Internasional (1)

Tak lama kapten meminggirkan kapalnya. Tak ada tempat bersandar di sini. Hanya sungai sedikit lebih lebar dan terdapat banyak pohon untuk mengikat tali. Kapten dan asistennya sibuk mengikat tali ke pohon agar perahu tidak terbawa arus. Dan kami meminta persetujuan untuk memancing.

Ternyata kail telah siap. Umpannya berupa cacing tanah juga telah tersedia. Luar biasa. Kami bisa menunggu malam sambil memancing. Hobi yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Rasanya senang sekali bisa melakukannya lagi.

Kami bertiga memilih posisi yang tepat. Saya ke ujung depan kapal. Sambil duduk melepas pancing ke sungai. Tak perlu menunggu lama, kail saya sudah bergerak termakan ikan. Dengan rasa senang layaknya anak kecil dapat mainan baru kami berteriak-teriak. Ternyata ikannya banyak sekali. Kail kami tak berhenti termakan ikan. Belum lima menit saya sudah dapat 10 ikan. Ada yang kecil dan besar. Demikian juga teman-teman saya. Luar biasa…

Setelah gelap kami berhenti memancing dan  bergantian membersihkan badan. Makan malam telah disiapkan.

Candle Light Dinner

Jangan lewatkan: Tanjung Puting, Destinasi Wisata Lokal Rasa Internasional (2)

Kami mengelilingi meja makan, ditemani temaram cahaya lilin, diatas perahu yang sandar di sungai buaya, dengan pemandangan hutan lebat yang tampak gelap dan penuh misteri di pedalaman hutan kalimantan. Desir suara air yang mengalir memecah kesunyian. Bisa dibayangkan rasanya makan malam di tengah suasana itu semua.

Ini bukanlah makan malam romantis yang seperti anda bayangkan. Tapi yang pasti ini makan malam yang paling nikmat yang akan selalu saya ingat.

Kenapa lilin, emang enggak ada genset? Sebenarnya ada. Cuma karena ini di tengah hutan. Jika pakai cahaya listrik, laron bertebaran mengelilinginya. Dan sebagian akan jatuh ke meja makan. Setelah selesai barulah lilin dimatikan dan lampu dinyalakan.

Tidur di Dalam Kelambu 
Foto: Zahrudin Haris

Ketika kami sedang berleha-leha di teras depan. Menikmati jutaan bintang di atas langit. Juga pemandangan gelapnya hutan.

Sang asisten merapikan tempat tidur. Dan lucunya dipasang kelambu di masing-masing tempat tidur. Menurut dia biar kami terlindung dari laron dan nyamuk.

Jadi ingat masa kecil dulu. Rasanya sudah lama sekali tidak tidur di dalam kelambu. Terasa aneh namun sangat nyaman. Kemudian semua layar yang tergulung rapi, diturunkan menutup semua jendela serta teras depan dan belakang. Sehingga pemandangan langsung ke hutan dan sungai menjadi tertutup.

Saatnya tidur di dalam perahu kelas hotel berbintang ini. Goyangan arus air dan suara jangkrik dan binatang malam lainnya mengantarkan kami ke peraduan. Ahhh, indahnya dunia.

Simak terus perjalanan kami di hari kedua di tulisan yang keempat.

LEAVE A REPLY