Tanjung Puting, Destinasi Wisata Lokal Rasa Internasional (2)

0
164

Selesai makan, kami berleha-leha menikmati pemandangan yang ada. Dari muara perahu kami berbelok ke kiri menuju sungai yang mengarah ke hulu.

Sungai ini dinamakan Sungai Buaya. Karena memang masih terdapat banyak buaya di sini. Sebelum berbelok terdapat patung orang utan dengan tulisan di bawahnya “Taman Nasional Tanjung Puting”.

Pos Pertama: Tanjung Harapan

Foto: Zahrudin Haris

Artikel sebelumnya: Tanjung Puting, Destinasi Wisata Lokal Rasa Internasional (1)

Pemberhentian pertama kami adalah Tanjung Harapan. Dari Kumai menuju lokasi pertama ini ditempuh selama dua jam. Sungai yang kami telusuri tidak seluas tadi. Airnya sedikit keruh. Di kiri-kanan kami tampak rerimbunan pohon nipah dan sagu yang menyerupai palem. Tersusun rapi menjadi pembatas antara sungai dan daratan.

Kami juga berpapasan dengan banyak perahu lain yang telah selesai tur. Dan semua penumpangnya rata-rata bule. Jarang sekali melihat turis asal Indonesia.

Sampai di Tanjung Harapan, perahu bersandar di dermaga. Sudah banyak perahu yang merapat. Kami mempersiapkan semua kebutuhan perjalanan untuk melihat pemberian makan terhadap orang utan di alamnya. Dari dermaga menuju tempat tersebut ditempuh sekitar 20 menit.

Kami berjalan kaki menyusuri hutan yang lumayan rimbun. Di sepanjang perjalanan banyak terdapat tumbuhan hutan yang sangat jarang bisa ditemukan. Seperti anggrek hitam, pohon kayu putih dan berbagai jenis tumbuhan langka lainnya.

Burung-burung dengan warna-warna yang sangat indah juga tampak berlompatan bermain di antara rimbunan pohon. Suara berbagai jenis jangkrik mengerik seperti musik alam yang mengiringi langkah kaki kami. Terasa damai dan menenangkan.

Kami sibuk mengabadikan keindahan alam pedalaman Kalimantan ini yang membuat perjalanan selama 20 menit menjadi tidak terasa. Tak lama kami melihat pohon-pohon tersibak dan bergoyang dengan kencang. Terlihat orang utan yang sangat besar sedang bergelayut di atas pohon berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Ternyata dia menuju tempat pemberian makan yang juga kami tuju.

Memberi Makan Orang Utan
Foto: Zahrudin Haris

Di area ini telah disiapkan kursi kayu memanjang beberapa baris. Di depan terdapat tali yang menjadi pembatas antara tempat kami dengan tempat orang utan berkumpul. Di sana terdapat meja panjang setinggi satu meter. Itulah meja yang menjadi tempat pemberian makan orang utan. Kami ibarat nonton opera dan yang jadi pemainnya adalah mereka.

Tak lama para pawang orang utan membawa beberapa keranjang yang berisi pisang. Mereka menumpahkannya di atas meja. Setelah itu mereka bersuit dan berteriak dengan suara khas layaknya Tarzan. Itu adalah kode panggilan khusus buat Orang Utan agar mendekat. Saatnya makan siang.

Dari kejauhan mulai bermunculan beberapa orang utan yang berjalan menuju meja. Mereka seakan mengerti jam makan mereka telah tiba. Lucunya setelah tiba, mereka memasukkan pisang sebanyak-banyaknya ke mulut kemudian pergi mencari tempat yang nyaman. Ada yg diatas pohon yang sangat tinggi. Ada yang di ujung dahan. Ada yang bersembunyi di kerinbunan. Baru mereka duduk dan makan satu persatu. Kalau habis mereka akan kembali ke meja.

Ternyata hukum rimba berlaku di sini. Yang paling besar dan paling kuat adalah rajanya. Setelah sang raja datang. Mereka semua menganbil makanan dan langsung menyungkit karena takut terusir. Selama sang raja makan dan berada di atas meja tidak ada satu pun yang berani mendekat. Mereka hanya melihat dari kejauhan menunggu sang raja pergi. Mereka makan tanpa terganggu oleh puluhan penonton dari seluruh dunia yang mengabadikan momen-momen langka ini.

Lebih kurang tiga puluh menit kami menyaksikan pertunjukan orang utan saat makan siang. Kemudian setelah kenyang mereka pergi satu per satu kembali ke habitatnya. Kamipun kembali ke perahu melanjutkan perjalanan.

Lucunya Bekantan, Monyet Berhidung Panjang Bak Pinokio 
Bekantan. (Foto: Zahrudin Haris)

Senja telah turun. Langit tampak biru jernih berpendar ke sungai yang terbelah oleh perahu yang kami tumpangi. Cahaya mentari tak lagi terik. Berpencar indah di antara pepohonan. Tak lama kami mendengar riuh suara monyet. Benar saja. Di punggiran sungai, di antara pepohonan, tampak puluhan bekantan sedang berlompatan berayun di antara pepohonan. Ternyata ini adalah waktunya mereka mencari makan.

Bekantan, monyet berhidung panjang seperti pinokio ini tampak sangat lincah. Mereka bergerak cepat diantara pelohonan menuju tepi sungai. Ternyata di tepi sungai ini banyak tumbuh tunbuhan yang berbunga dan berbuah yang menjadi makanan pavorit mereka.

Setelah dapat mereka duduk dan memetik makanan yang mereka inginkan. Ekornya yang panjang menjuntai dan berayun menambah keindahan monyet cantik ini.

Bekantan. (Foto: Zahrudin Haris)

Beruntungnya kami bisa melihat langsung kehidupan mereka. Kami sibuk mengabadikan dengan kamera foto dan ponsel yang kami bawa. Kapan lagi bisa merekam kehidupan monyet langka khas Kalimantan ini.

Setelah ini perjalanan terus berlanjut. Bagaimana rasanya menginap di atas perahu di tengah sungai buaya di pedalaman Kalimantan. Baca bagian ketiga dari tulisan ini.

LEAVE A REPLY