Tanjung Puting, Destinasi Wisata Lokal Rasa Internasional (1)

0
532
Foto: Zahrudin Haris

Tanjung Puting. Banyak orang Indonesia yang tidak tahu destinasi wisata ini. Saya juga tahu dari teman asal Inggris saat berkenalan dan melakukan tur dari Lombok menuju Labuan Bajo. Dia menanyakan tempat ini dan jujur saya jawab tidak tahu.

Karena malu akhirnya saya tanya mbah google. Dari sana saya dapat informasi sebanyak-banyaknya tentang indahnya destinasi wisata ini. Saya putuskan untuk mengunjunginya dan harus atur waktu segera ke sana.

Namun seiring berjalannya waktu dan kesibukan kerja, rencana itu hanya menjadi wacana dan akhirnya terlupakan. Baru teringat lagi ketika saya mengunjungi Raja Ampat dan bertemu turis asal Meksiko yang menanyakan hal yang sama. Saya berpikir, gila juga ya mereka dari negeri yang begitu jauh bisa terbang berpuluh jam hanya untuk mengunjungi destinasi wisata ini. Sementara saya yang orang Indonesia kok bisa belum pernah ke sana.

Akhirnya pada Mei 2018 dalam perjalanan mengunjungi beberapa kota di Kalimantan, saya putuskan untuk mengunjungi Tanjung Puting. Saya ingin mengeksplorasi destinasi wisata yang terkenal di mancanegara namun banyak orang Indonesia yang justru tidak tahu di mana tempatnya.

Start dari Pangkalan Bun

Tanjung Puting terletak di Kalimantan Tengah, tepatnya di Pangkalan Bun. Dari Palangkaraya menuju kota Pangkalan Bun penerbangan hanya 40 menit naik pesawat kecil, yang transit di kota Sampit. Sedangkan dari Jakarta ada penerbangan langsung yang ditempuh lebih kurang 1 jam.

Untuk sekelas kota kedua, Bandara Pangkalan Bun lumayan bagus dengan fasilitas yang sudah lengkap. Tahun lalu saya pernah ke Pangkalan Bun dan saya sama sekali tidak tahu bahwa destinasi wisata Tanjung Puting berpangkal dari sini. Kalau ingat itu jadi malu hati. Hehe.

Kami dijemput oleh tur operator yang kami sewa, yaitu Varada Borneo Tour. Operator ini khusus membuka paket perjalanan selama 3 hari 2 malam ke Tanjung Puting. Karena kami bertiga jadi harus menyewa satu kapal dan terhitung private tour. Biaya per orang 2,8 juta sudah termasuk semuanya. Makin banyak pesertanya biayanya makin murah.

Dari bandara kami dibawa ke Pelabuhan Klotok di Kumai. Sampai di Kumai, sudah tersedia perahu dua lantai berukuran sedang. Dengan lebar lebih kurang 4 meter dan panjang sekitar 15 meter.

Perahu berfasilitas lengkap yang sangat nyaman

Fasilitas boat ini sangat lengkap. Di lantai atas telah disiapkan tiga tempat tidur yang standar hotel. Juga ada meja makan. Teras depan buat bersantai lengkap dengan kursi selonjoran seperti di pantai. Serta teras belakang juga buat bersantai dengan kursi kayu yang sangat instagramable untuk berfoto.

Di sini terdapat juga wastafel dan rak kecil minuman. Yang menyediakan termos air panas, kopi, teh, gula, minuman ringan atau soft drink dan juga mineral water.

Kemudian saya melongok ke lantai bawah. Di bagian belakang ada toilet yang sangat bersih dengan shower yang dilengkapi air panas dan dingin. Serta toilet duduk yang sangat nyaman. Di bagian tengah ada dapur dengan fasilitas yang lengkap. Serta terdapat ruangan buat istirahat kapten, asisten, tour guide dan juga juru masak yang menemani perjalanan kami ini.

Serta di bagian paling depan perahu terdapat tempat bersantai yang bisa diakses dengan tangga dari lantai atas. Tempat ini nantinya akan menjadi lokasi favorit kami untuk memancing.

Perjalanan dimulai…

Pukul 12 siang perjalanan kami dimulai. Perahu boat yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Pelabuhan Klotok Kumai yang lumayan padat. Perahu membelah sungai yang sangat luas ini menuju ke hilir arah muara.

Tampak sesekali bergoyang terterpa ombak jika ada kapal besar yang lewat. Kapten membawa kami ke pinggir menyusuri tepian sungai yang hijau dipenuhi hutan bakau. Teriknya mentari tak terasa karena embusan angin yang sepoi-sepoi melenakan. Tour guide menjelaskan secara singkat perjalanan yang akan kami tempuh hari ini.

Makan siang yang lengkap dan lezat

Setelah selesai dengan penjelasan dan sedikit kisah dan keunikan dari Tanjung Puting, tour guide yang memperkenalkan diri sebagai Herman ini turun ke bawah. Dan Tak lama naik lagi keatas bersama makanan yang baru selesai dimasak, dibantu oleh asisten kapten yg masih berusia belasan tahun namun sangat gesit dan cekatan. Setelah siap mereka mempersilakan kami untuk bersantap.

Saya melihat hidangan yang tersaji sangat lengkap. Ada dua menu masakan dari sayuran. Sedangkan lauknya ada ikan dan ayam. Nasi hangat dalam wadahnya. Lengkap dengan buah-buahan juga. Minumannya ada mineral water dan juice buah.

Cara mereka menyajikan makanan sama seperti restoran-restoran yang berstandard internasional. Lengkap dengan garpu, pisau dan sendok. Saya sudah berkeliling ke banyak tempat wisata di Indonesia. Tapi di sini di pedalaman Kalimantan yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, saya dibuat surprise.

Dari awal ketika masuk perahu dengan semua fasilitas yang tersedia, yang standard hotel, sampai dengan menu yang mereka sajikan saat ini. Mereka melampaui ekpektasi saya tentang tour menyusuri sungai, melihat kehidupan orang utan di pedalaman Kalimantan ini.

Selain itu masih banyak kejutan-kejutan lain yang saya dapatkan. Untuk tahu kelanjutannya, silakan terus baca bagian kedua tulisan ini. Sekarang saya ingin makan dulu, mencoba masakan lokal standard internasional yang rasanya lezat ini.

LEAVE A REPLY