Sulawesi Tenggara Punya Tamborasi, Sungai Terpendek Kedua di Dunia

0
577
Keindahan alam sungai dan pantai Tamborasi dalam satu pandangan. (Foto: wisatasulawesi.com)

Traveler, sungai terpendek kedua di dunia, ada di Indonesia. Tepatnya di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sungai Tamborasi namanya.

Panjangnya hanya sekitar 20 meter, lebar 15 meter. Sesungguhnya, Tamborasi menjadi sungai yang terpendek ke-dua di dunia setelah sungai Reprua di Georgia yang mempunyai panjang 18 meter.

Sungai ini, menurut www.gocelebes.com, terkesan seperti sebuah danau, tetapi aliran air yang mengalir membuktikan bahwa ini adalah sungai.

Air sungai yang berasal dari sebuah mata air, berada di antara bebatuan tebing yang segar, berwarna hijau dengan air yang angat tenang sekilas mirip dengan air danau, tetapi sejatinya air disini mengalir.

Mari bermain air. (Foto: www.thepleng.com)

Hulu di Sungai ini berhubungan langsung dengan laut Pantai Tamborasi. Hanya beberapa meter lagi menuju garis bibir pantai.

Kondisi air antara pantai dan sungai ini jauh berbeda. Air yang ada di sungai terasa dingin dan segar, namun air pantai terasa akan hangat.

Jadi, di Tamborasi ini pengunjung akan memiliki 2 pilihan untuk berenang atau cuma berendam. Kondisi sungai yang berhimpitan langsung dengan dinding tebing dan pohon-pohon yang berakar sampai dasar sungai menjadikan sungai ini terasa sejuk walaupun berada di pinggir pantai.

Kisah Mistik dan Mitos Sungai Tamborasi

Nama Tamborasi berasal dari bahasa Tolaki yaitu Pomboraasi atau pengadangan. Nama itu melekat karena menjadi batas untuk menghalau penjajah oleh pejuang terdahulu yang melintas di dua kabupaten (Kolaka-Kolut).

Berbagai versi wujud dari dunia lain pun kerap menampakkan diri di sungai itu. Sebagian orang meyakininya menjadi jembatan mewujudkan impian.

Pemandangan sungai Tamborasi yang berseberangan dengan pantai, nampak dramatis. (Foto: www.panoramio.com)

Tidak banyak orang yang memberanikan diri untuk berenang di sana karena penuh dengan aroma mistik. Terkecuali, bagi kalangan tertentu yang masih kental kepercayaan animisme-nya untuk meletakkan sesajen lewat panduan Lewe, orang yang pertama kali menjaga tempat itu.

Kadus IV Desa Tamborasi Saldi Ukkas bercerita, dalam jpn.com, konon sebelum jalan Trans Sulawesi Kolaka-Kolut dibuka, sebagaian besar warga harus menggunakan transportasi laut. Banyak yang hendak merapat ke permandian itu namun tidak bisa karena merasa terhalau hembusan angin yang kencang dari arah muara pantai itu.

Ada mitos, konon apabila pengunjung ada yang bisa mengikatkan sebuah tali pada akar-akar pohon yang berada di pinggir sungai, penduduk setempat meyakini jodoh akan segera datang ataupun hubungan akan berjalan harmonis.

Apabila beruntung, pengunjung akan menemui hewan endemik dari Tamborasi yaitu monyet berbulu emas dan burung laut yang berkeliling di area pantai Tamborasi.

LEAVE A REPLY