Raja Ampat, Surga Tersembunyi yang Mulai Membuka Diri (3)

1
625
Saya bersama teman-teman seperjalanan di Raja Ampat. (foto: Zahrudin Haris)

Pukul 6 pagi semua peserta sudah siap di lobi hotel. Semua sudah selesai sarapan. Sebagian peserta membawa tas ransel berisi baju ganti dan perlengkapan trekking mendaki puncak pegunungan Wayag. Ini destinasi terjauh dari lokasi hotel. Perjalanan ditempuh lebih dari 4 jam dengan menggunakan speed boat.

Tiba-tiba cuaca kembali berubah. Langit pagi yang semula cerah kini mendadak gelap dan menghitam. Hujan tiba dengan derasnya. Kami yang sudah siap berangkat terpaksa menunggu di lobi hotel dengan perasaan harap-harap cemas. Karena kalau hujan berlangsung lama, kami dipastikan tidak dapat mengunjungi Wayag. Menurut tour guide, perjalanan ke sana akan terhalang gelombang yang sangat tinggi dan agak riskan untuk dilewati.

Ternyata hujan berlangsung cukup lama. Setelah 2 jam baru berhenti. Waktu sudah jam 8 pagi. Akhirnya tour guide dan kapten kapal memutuskan untuk mengubah rencana perjalanan. Jadwal besok dimajukan ke hari ini. Rencana ke Pulau Wayag mundur jadi besok. Hari ini diputuskan untuk mengunjungi Telaga Bintang, Pulau Piaynemo, Pasir Timbul, Pulau Wisata Arborek, dan terakhir snorkeling di Yenbuba.

Telaga Bintang

Telaga Bintang. (foto: Zahrudin Haris/Travel Today)

Pukul 8.30 setelah hujan benar-benar reda, semua peserta naik ke speed boat. Kami menuju destinasi wisata yang pertama, yaitu Telaga Bintang. Setelah dua jam kami tiba di lokasi. Kapal bersandar di dermaga kecil yang berada di tebing sisi pulau. Semua peserta turun satu persatu.

Tebing ini sedikit curam. Untuk naik ke atas tidak ada tangga. Hanya ada undakan di batu karang bekas orang mendaki. Harus berhati-hati untuk mendaki bukit ini. Jaraknya tidak terlalu jauh. Untuk yang biasa mendaki cukup 10 menit sudah sampai ke puncak. Tapi untuk yang tidak biasa, bisa 20 sampai 30 menit.

Tapi jangan khawatir. Berjalan saja pelan-pelan. Jika lelah, berhentilah sejenak. Anda akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Di bawah sana terhampar lautan yang mempunyai tiga warna. Bukit-bukit yang menghijau juga sangat menyejukkan mata. Serta langit yang biru menghilangkan lelah anda.

Ketika sampai di puncak, bentang alam bak lukisan akan membuai anda. Terlihat laut yang dikelilingi bukit-bukit yang membentuk sudut-sudut bersegi lima menyerupai bintang. Sehingga tempat ini dijuluki telaga bintang. Sungguh bentukan alam serupa lukisan yang menakjubkan.

Sampai di puncak bukit anda bisa memandang luas 360 derajat. Ke manapun mata anda arahkan, anda akan disuguhi pemandangan yang memuaskan. Semua peserta sibuk berfoto mengabadikan tempat ini. Namun harus hati-hati melangkah, karena batu karangnya cukup tajam. Setelah puas berfoto-foto, semua peserta kembali ke kapal dengan perasaan yang membungah.

Pulau Piaynemo, puncak pertama ikon Raja Ampat 

Di Pulau Piaynemo. (foto: dokumen pribadi)

Kapal perlahan bergerak kembali dengan santai. Sekarang kami menuju ke kepulauan Piaynemo. Tak berapa lama, kami memasuki satu kawasan dengan banyak pulau kecil. Banyak kapal yang keluar masuk area ini. Dari kejauhan tampak dermaga yang besar dan rapi dengan tulisan besar “Selamat Datang di Piaynemo”.

Setelah semua turun. Kami menaiki ratusan tangga kayu yang sudah dibuat bagus dan rapi menuju puncak bukit. Lebih dari 300 anak tangga harus kita injak untuk sampai menuju puncak. Tangga kayu ini tampak baru dan berada di bawah pepohonan yang rimbun. Sehingga tidak terlalu menguras tenaga untuk mendakinya. Sesampai dipuncak cukup ramai. Jadi harus sedikit antre untuk mengambil foto di spot-spot terbaiknya.

Hamparan ratusan pulau-pulau karang yang menghijau seakan-akan tumbuh dari dasar laut, membuat Piaynemo menjadi ikon utama Raja Ampat disamping Pulau Wayag. Perlu bukti, bukalah sosial media, begitu kita cari gambar Raja Ampat, maka foto-foto di puncak Piaynemo memenuhi halaman utamanya. Tempat ini memang menyuguhkan keindahan tak terkira. Sayangnya ketika asyik berfoto-foto hujan turun dengan derasnya. Jadi hasil foto-foto kami tidak maksimal.

Setelah puas, kami turun dari sisi yang lain. Di sini terdapat banyak penjual makanan dan minuman. Untuk menghangatkan badan, kami pesan mi instan dan kelapa muda, perpaduan untuk melepas lapar dan dahaga.

Pulau Toilet dan pembuangan sampah yang indah

Setelah semua berkumpul. Kami melanjutkan perjalanan. Karena sebagian ingin ke toilet, maka kapal kami merapat ke satu pulau kecil tak berpenghuni. Rupanya di pulau ini tersedia toilet tiga pintu dan juga tempat pembuangan sampah yang bisa hancur seperti kelapa muda.

Penduduk yang tinggal di Kepulauan Raja Ampat sudah sangat mengerti untuk menjaga kebersihan. Semua membuang sampah pada tempatnya. Selama di sini tidak pernah terlihat orang yang membuang sampah ke laut. Sehingga semua tempat tampak bersih dan terjaga.

Begitu juga pulau kecil ini. Sambil antre saya menyempatkan diri untuk berkeliling. Dan saya menemukan hamparan pasir putih dengan laut yang jernih berada di antara dua tebing yang menjorok ke laut. Seperti surga yang tersembunyi. Seketika semua berlarian ke tempat ini dan berebutan mengabadikannya. Dimana lagi menemukan pulau tempat pembuangan sampah dan toilet seindah ini?

Bermain di hamparan pasir yang luas di tengah laut
Pasir Timbul. (foto: Zahrudin Haris/Travel Today)

Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasir Timbul. Sekitar setengah jam kami telah melihat destinasi yang kami tuju. Tampak pulau yang berupa hamparan pasir yang luas berada di tengah lautan. Pulau yang disebut pasir timbul ini akan tampak begitu laut sedang surut. Dengan lebar sekitar 20 meter dan panjang lebih dari 100 meter. Tampak cukup luas untuk bermain. Pulau ini dikelilingi laut  berair jernih berwarna hijau toska, setinggi dengkul orang dewasa. Indah….

Semua memanfaatkan waktu untuk berenang dan bermain air sepuasnya. Kapan lagi bisa berenang dan bermain air di tengah lautan tanpa takut tenggelam?

Surga bawah laut bernama Yenbuba
Bersama anak-anak penduduk setempat di Dermaga Yenbua. (foto: Zahrudin Haris/Travel Today)

Selepas dari Pasir Timbul perjalanan dilanjutkan untuk menuju destinasi wisata selanjutnya yaitu pulau Wisata Arborek yang ditempuh lebih kurang satu jam dari Pasir Timbul.

Di perjalanan tour guide menanyakan tentang PIN untuk masuk pulau Arborek. Ternyata untuk masuk pulau wisata tersebut harus punya PIN yang dibeli di Waisai seharga Rp500 ribu per orang. Kami yang tidak tahu dan tidak mengerti tentang aturan ini, serentak menjawab tidak punya. Terjadi miskomunikasi di sini. Akhirnya perjalanan dialihkan langsung menuju Pulau Yenbuba, destinasi wisata selanjutnya.

Setelah satu jam kami tiba di Pulau Yenbuba. Terdapat satu dermaga yang sangat panjang yang menghubungkan laut dengan daratan. Kapal kami merapat ke dermaga dan semua peserta menyiapkan alat snorkelingnya.

Sebelum turun kami diingatkan untuk jangan sampai menginjak terumbu karang. Karena laut di sini cukup dangkal, kami disarankan untuk berhati-hati dan memilih tempat yang agak dalam agar kaki tidak menjejak dasar.

Dengan mata telanjang, tanpa harus turun ke laut, kami melihat ribuan ikan cantik, dengan warna-warna indah berenang bebas. Dan jika kita ke arah pinggir mendekati pulau, maka akan tampak terumbu karang bagai bunga-bunga di taman bermekaran dengan warna yang indah.

Dan ketika saya terjun dengan memakai kacamata snorkeling. Kembali saya dibuat terkagum-kagum akan keindahan alam bawah laut Raja Ampat. Ribuan ikan warna warni berenang bebas di sekitar saya. Sedangkan di bawah kaki saya tumbuh ribuan terumbu karang dengan beragam bentuk. Ada yang berbentuk bunga bakung, kembang terompet, anggrek hutan dan ratusan bentuk lainnya.

Di sela-selanya terdapat ikan yang berenang dengan gembira seakan-akan bermain bersama. Seperti kumbang dan lebah yang bermain di taman bunga.

Satu lagi tempat di Raja Ampat yang membuat saya makin jatuh cinta. Saya tidak akan pernah bosan untuk terus kembali ke tempat ini. Surga bawah laut yang terletak di bawah dermaga pulau Yenbuba.

Setelah puas kami naik ke dermaga, saling bercerita tentang apa yang kami lihat. Tiduran sejenak, untuk kemudian terjun kembali menikmati taman bawah laut yang masih sangat asri dan terjaga. Semoga saja tempat ini akan terus seperti saat ini.

Perjalanan masih panjang. Terus ikuti petualangan saya menyibak indahnya kepala burung Papua. (zh)

Baca juga: Bagian pertama dan bagian kedua.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY