Pasar Karetan, Destinasi Baru dan Unik Kabupaten Kendal

0
32
Foto: khoiriyaa.files.wordpress.com

Pasar Karetan yang berlokasi di hutan karet Radja Pendapa Desa Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal, Jawa Tengah (Jateng) ini,  kini berubah menjadi destinasi wisata baru dan uniknya Kabupaten Kendal.

Hutan karet di Radja Pendapa itu diubah menjadi pasar dengan nuansa pedesaan hasil kolaborasi netizen yang tergabung dalam komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jateng dengan warga setempat.

Suasana pedesaan dihadirkan dan dikolaborasikan dengan dekorasi lifestyle kekinian yang ramah lingkungan atau go green di acara Pasar Karetan itu.

Nikmati weekend di Kota Semarang memang kurang lengkap jika tak singgah di tempat satu ini. Ya, di ujung barat Kota Semarang, ada satu pasar unik yang dikembangkan masyarakat menjadi satu destinasi wisata atraktif.

Suasana Pasar Karetan yang unik. Foto: static.viva.co.id

Jarak pasar ini sekitar 15 km dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Seperti halnya pasar unik di tempat lainnya, Pasar Karetan terletak di tepi hutan karet milik PT PTPN.

“Ini luar biasa, di tengah hutan karet ada aktivitas orang jualan, berinteraksi, ada kuliner khas, bisa belajar, masyarakat di sini juga terlibat. Ini akan meningkatkan potensi wisata dan ekonomi warga,” tutur Bupati Kendal, Mirna Annisa, yang datang ke Pasar Karetan, dalam siaran pers Genpi Jateng kepada Solopos.com, Minggu petang.

Mirna berharap, Radja Pendapa Boja yang termasuk daerah pinggiran berbatasan dengan Kota Semarang bisa dilirik oleh para wisatawan. Pasar Karetan menurutnya sangat pas digelar untuk menunjukan suasana pedesaan yang dikemas para netizen GenPI.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Esthy Reko Astuty, menyampaikan kolaborasi masyarakat sekitar dengan anak muda zaman serba digital menciptakan atraksi nuansa back to nature di Pasar Karetan, Kendal.

Foto: www.hengkykik.com

“Kemenpar sangat mendukung karena ini daya tarik, ini bagian dari pemasaran kami. Kalau dilihat market-nya ini cocok untuk nusantara dan ASEAN yang direct dari Solo dan Jogja. Bahkan wisman [wisatawan mancanegara] Singapura yang biasa disuguhi gedung tinggi pasti akan terkagum dengan suasana back to nature ini,” beber Esthy.

Esthy melihat partisipasi masyarakat lokal. Kuliner tradisional, membatik, membuat payung hias, mendekor, sampai anak-anak diikutkan permainan tradisional, menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Bagi Anda yang mengendarai kendaraan keluarga, satu lapangan sepak bola di Desa Meteseh diubah menjadi tempat parkir kendaraan.

Setelah parkir, menurut KompasTravel, anda juga tidak perlu berjalan kaki dari tempat parkir ke lokasi yang jaraknya mencapai 800 meter.

Ada odong-odong yang disediakan untuk mengantarkan wisatawan sampai lokasi, dan sebaliknya. Odong-odong yang ditumpangi wisatawan itu pun tidak dipungut biaya, alias gratis.

LEAVE A REPLY