Pantai Nemberala, Salah Satu Kemolekan di Selatan Indonesia

0
518
Presiden Joko Widodo melangkahkan kakinya di atas hamparan pasir putih Pantai Nemberala, Rote, NTT di awal Januari 2018 lalu. (foto: Biro Pers Setpres)

Beberapa waktu lalu, Travel Today Indonesia mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Pulau ini ternyata punya berbagai pesona wisata tersembunyi yang secara tidak langsung dipromosikan oleh Presiden Joko Widodo ketika ia berkunjung ke sana. Salah satunya, Pantai Nemberala.

Dari Kupang, ibu kota NTT, kami menuju Pulau Rote dengan menumpang kapal ferry. Butuh waktu sekitar 4 jam dari Pelabuhan Bolok, Kupang untuk kemudian berlabuh di Pelabuhan Pantai Baru, Rote. Cuaca sungguh bersahabat, sehingga laut yang tenang seperti memberi kami kemudahan dalam pelayaran.

Dari Pelabuhan Pantai Baru kami sempat singgah di rumah seorang teman yang kebetulan penduduk asli pulau paling selatan di wilayah Indonesia itu. Letak rumah teman kami hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari laut, saking dekatnya, suara debur ombak selalu singgah di telinga. Silih berganti dengan suara angin.

Saat itu waktunya makan siang. Suguhan berbagai masakan ikan dan sambal pedas hasil bumi sendiri menyulut selera makan hingga ke puncaknya.

Pantai Nemberala

Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana mengamati keindahan Pantai Nemberala. (Foto: Biro Pers Setpres)

Berbagai rencana yang telah kami susun untuk menjelajahi Pulau Rote kembali dimatangkan saat makan siang itu. Selain ingin melihat langsung bagaimana warga setempat menjalani hidup mereka, kami pun ingin melihat langsung Pantai Nemberala.

Pantai ini belum dikenal luas saat kami ke sana. Tetapi, pelancong mancanegara justru banyak datang ke pantai berpasir putih itu. Wow! Malu rasanya, mengaku Indonesia tetapi kalah langkah dari wisatawan mancanegara.

Setelah makan siang selesai, kami pun berkemas untuk menuju Ba’a, sebuah kota di Pulau Rote yang terbilang ramai. Dengan menggunakan sepeda motor, melajulah kami di jalanan beraspal dengan pemandangan indah di kanan-kiri. Bergantian antara hamparan savana dan laut.

Sampai di Ba’a kami beristirahat sejenak sambil membeli sedikit perbekalan dan mengisi bahan bakar untuk sepeda motor. Masih ada sekitar 30 kilometer lagi yang harus kami tempuh dan tak ada jaminan akan ada penjual BBM di sisa perjalan.

Jalanan beraspal halus yang kami lalui dari Pantai Baru pun tuntas beberapa kilometer jelang Pantai Nemberala. Kami memasuki Desa Nemberala yang damai. Beberapa kali kami melewati beberapa rumah petani rumput laut. Oh, debur ombak kian terdengar, pantai sudah dekat.

Potensi sport tourism 

Pantai Nemberala, betapa indahnya. (Foto: indonesiakaya.com)

Pantai Nemberala sungguh indah, saudara-saudara. Pantainya berpasir putih dan masih asri. Kendati saat itu belum banyak fasilitas memadai, namun beberapa penginapan sudah ada di sana. Kami melihat sejumlah turis mancanegara bertelanjang dada bersantai menunggu datangnya matahari terbenam.

Tak hanya pantai dan pasir putih Nemberala yang terkenal. Ternyata, gulungan ombak Pantai Nembrala juga sudah mendunia. Tak heran, kami juga menyaksikan sejumlah turis yang menenteng papan selancar mereka.

Dari informasi teman kami tadi, setiap musim ombak di bulan Agustus-Oktober di Pantai Nemberala dan Bo’a biasanya diadakan lomba surfing yang tarafnya internasional. Bahkan menurutnya, sejumlah peselancar kelas dunia pernah mencoba surfing di sini. Kece badai!

Baiklah, sebentar lagi matahari terbenam. Saatnya kami mencari tempat terbaik untuk menyaksikan kemolekan sunset moment di Pantai Nemberala, yang entah kapan lagi bisa disaksikan.

LEAVE A REPLY