Nikmati Super Blue Blood Moon Berlatar Objek Wisata Indonesia

0
80
Supermoon, Bali beberapa tahun lalu. (foto: www.pemburuombak.com)

Traveler, siap-siap pasang mata. Momen Super Blue Blood Moon pertama kalinya sejak 152 tahun ini wajib diabadikan. Salah satunya, gabungkan Super Blue Blood Moon dengan objek wisata Indonesia sebagai latar depannya.

Thomas Djamaluddin,  Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memberikan sejumlah tips bagi masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena langka Super Blue Blood Moon 31 Januari 2018.

Keistimewaan fenomena ini adalah, pada saat berlangsung nantinya, akan terjadi tiga pertistiwa alam secara bersamaan, yakni Supermoon, Blue Moon, dan Gerhana Bulan Total.

Itulah mengapa, gabungan peristiwa ini disebut sebagai Super Blue Blood Moon atau gerhana bulan biru kemerahan.

Supermoon di Pantai Boom Banyuwangi. (Foto: cdns.klimg.com)

Lebih istimewanya lagi, Super Blue Blood Moon dapat dinikmati dengan mata telanjang alias tanpa bantuan alat. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu diingatkan masyarakat bila ingin menyaksikan fenomena tersebut.

“Cukup amati purnama dan sesuaikan waktunya menurut waktu setempat, misalnya WITA dan WIT,” ucap Thomas, seperti dilansir inet.detik.com.

Perlu diingat, Indonesia dibagi tiga zona waktu, yakni WIB, WITA, dan WIT. Super Blue Blood Moon berlangsung sejak pukul 18:48 WIB. Itu artinya, Indonesia Tengah kebagian pada pukul 19:48 WITA, dan Indonesia Timur pada pukul 20:48 WIT.

Adapun keseluruhan proses gerhana diperkirakan terjadi sampai pukul 22:11 WIB. Dengan demikian, Indonesia Tengah akan menikmati fenomena itu hingga pukul 23:11 WITA dan Indonesia Timur pada pukul 24:11 WIT.

Alam Wisata Indonesia Bisa Jadi Latar Menarik

Bagi yang ingin mengabadikan Super Blue Blood Moon lewat jepretan kamera, Thomas menyarankan agar menyandingkannya dengan objek yang ada disekitar.

“Misalnya, lebih baik tahapan Gerhana disandingkan dengan objek latar depan yang menarik dari arah timur, seperti Monas, gedung-gedung yang menarik bentuk dan cahayanya, (misalnya) jembatan Ampera Palembang, jembatan Pasupati Bandung, Borobudur, atau Prambanan,” tutur ahli astronomi lulusan ITB dan Kyoto University ini.

Di samping persiapan di atas, kelancaran masyarakat bisa menyaksikan Super Blue Blood Moon juga dipengaruhi kondisi alam yang terjadi nantinya.

Kondisi terbaik untuk melihat fenomena ini adalah ketika langit tidak terhalang awan, mendung, ataupun lainnya.

“Tentu saja berdoa agar cuaca cerah,” tutup Thomas.

LEAVE A REPLY