Museum Tsunami Aceh, Tugu Peringatan sekaligus ‘Bukit Pengungsian’.

0
585
Museum Tsunami Aceh rancangan Arsitek Bandung, Ridwan Kamil. (foto: sumutmantap.com)

Museum Tsunam Aceh ini terletak di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh, dan buka setiap hari (kecuali hari jumat) dari 10,00-12,00, dan 15,00-17,00 Waktu Indonesia Barat. Museum Tsunami Aceh merupakan museum di Banda Aceh yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia di 2004, sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat, andai tsunami terjadi lagi.

Perancang Museum Tsunami Aceh adalah arsitek asal Bandung, Jawa Barat, yakni Ridwan Kamil. Menurut wikipedia, Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami.

Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Atapnya dari atas membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Museum Tsunami Aceh megah nan kokoh. (foto: SERAMBI/M ANSHAR)

Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini. Museum juga dilengkapi dengan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia, gambar dari korban, dan cerita dan kesaksian dari korban.

Membangun Museum Tsunami Aceh, menurut pedomanwisata.com, telah menelan biaya sekitar Rp70 miliar, dan terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama adalah daerah ruang terbuka yang berfungsi sebagai pengingat dari bencana tsunami. Ada beberapa bagian di lantai pertama yang mengingat hari malang termasuk pra-tsunami, selama tsunami, dan gambar pasca-tsunami. Beberapa gambar, sisa-sisa, dan diorama sebuah dipamerkan di sini. Beberapa diorama yang paling menonjol adalah kapal nelayan yang terkena gelombang tinggi dan berlari ke pantai. Ada juga gambar dari PLTD Apung kapal yang tersapu dan dibawa jauh di pedalaman untuk akhirnya kandas di Punge Blang Cut.

Lantai 2 dilengkapi dengan media pendidikan termasuk perpustakaan, kamar simulasi, ruang 4D, dan toko suvenir. Beberapa dipamerkan di sini adalah bangunan tahan gempa dan model simulasi kerak bumi. Ada juga ruang diorama menampilkan lukisan dan bencana tsunami.

Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.

 

LEAVE A REPLY