Mereka yang Diayomi Gunung Api

0
56
traveltodayindonesia.com/Angga Haksoro

Gunung memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat Jawa. Datarannya yang tinggi sering dimaknai sebagai upaya manusia mendekatkan diri dengan Tuhan. Gunung menjembatani kawula di alam dunia dengan Sang Pencipta di Nirwana.

Tidak aneh kemudian banyak kisah religius (sebagian yang lain menyebutnya mistis) di Jawa, berkaitan dengan keberadaan gunung. Ini yang menjelaskan mengapa tiba-tiba muncul perasaan ganjil yang sulit dijelaskan ketika manusia berhadapan dengan gunung.

traveltodayindonesia.com/Angga Haksoro
Pintu masuk Ketep Pass

Perasaan seperti perpaduan antara takut, kagum, dan tunduk sekaligus. Semacam perasaan ‘penghambaan’ mahluk kepada Sang Pencipta. Bahwa ada sesuatu yang lebih besar, lebih mulia, dan lebih berkuasa dibanding dzat diri manusia.

Gunung Fuji, Himalaya, Bromo, contoh nyata posisi gunung -terutama bagi masyarakat Timur- yang diidentikan dengan ke-Tuhanan. Keagugan gunung ditempatkan pada ruang hati yang paling halus, dalam teologi disebut keimanan.

Situasi itu yang kemudian menjelaskan hubungan sosiologis yang erat antara masyarakat Jawa dengan gunung. Bukan hanya sebagai tempat tinggal, masyarakat Jawa meyakini gunung itu ngayomi (melindungi).

Bahkan dalam bentuk yang paling nyata, gunung dapat maringi (memberikan) penghidupan bagi warga sekitarnya.

Hubungan khusus ini yang sering gagal dipahami oleh masyarakat yang tinggal jauh dengan gunung. Meski warga lereng gunung dinilai tinggal di daerah rawan bencana, mereka emoh pindah. Ikatan batin dan religiusitas mereka sudah kadung kental dan mendarah daging.

traveltodayindonesia.com/Angga Haksoro
Miniatur Gunung Merapi

Pilihannya kemudian adalah hidup selaras dengan “denyut” aktifitas gunung. Memahami kebiasaannya, tanda-tanda dan siklus letusan. Masyarakat lereng Merapi misalnya, sebagian besar memahami erupsi sebagai gunung sedang punya hajat.

Lantas bagi mereka tidak pantas jika kemudian mengeluh atau marah karena Merapi meletus. Mereka memaklumi “hajatan” Sang Gunung. Bahkan dalam tingkatan pemahamanan tertentu justru menghormatinya.

Kesepahaman manusia-alam (Gunung Merapi) yang hidup berdampingan itu yang kemudian diimplementasikan melalui objek wisata Ketep Pass. Bukan hanya sekedar pos pengamatan aktivitas Merapi, Ketep Pass juga wahana edukasi gunung api.

Ketep Pass yang semula hanya gardu pengawas aktivitas letusan Merapi, perlahan berkembang menjadi pusat pengenalan gunung api dengan kemasan objek wisata.

Fasilitas yang dapat dinikmati di Ketep Pass, seperti Museum Vulkanologi, bioskop mini, pelataran Panca Arga, teropong, gardu pandang, dan restoran mendukung upaya edukasi tersebut.

Museum Vulkanologi direkomendasikan menjadi fasilitas pertama yang harus dikunjungi di kawasan Ketep Pass. Dalam museum seluas 550 meter persegi, berdiri miniatur Gunung Merapi, komputer interaktif yang berisi dokumen kegunungapian, dan beberapa contoh batuan bukti letusan dari tahun ke tahun.

Pengunjung selanjutnya dapat menuju pelataran Panca Arga yang memiliki arti lima gunung. Dari lokasi tertinggi di objek wisata Ketep Pass ini kita dapat melihat lima gunung: Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet.

Selain kelima gunung tersebut, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan di kejauhan gunung-gunung kecil dan bukit indah di sekitaran Magelang. Antara lain Gunung Tidar, Gunung Andong, Gunung Pring, Bukit Menoreh, dan Bukit Telomoyo.

traveltodayindonesia.com/Angga Haksoro
Kios jajanan Ketep Pass

Kurang lebih 17 kilometer dari pertigaan Blabak, jalan menuju Ketep Pass terbilang masih bersahabat bagi para pengendara motor. Tanjakan lumayan terjal hanya terdapat sekitar 4 kilometer menjelang puncak.

Dengan merogoh kocek Rp 12 ribu di hari libur, pengunjung dapat menikmati sejuknya udara gunung ditambah pemandangan hijau menghampar ladang di kaki Merapi.

Jangan khawatir soal pengisi perut. Puluhan warung kopi, jagung bakar, mie instan, bahkan jasa pijat kaki siap melayani.

Sepulang dari sini, anda akan menimba bekal pengalaman baru bahwa alam dan manusia adalah satu harmoni. Merapi yang ngayomi dan maringi.

 

LEAVE A REPLY