Menyusuri Keindahan Bukit Karts dan Pantai di Perbatasan Indonesia-Timor Leste

0
333
Seorang nelayan di Pantai Wini. (foto: Traveltoday Indonesia/ZH)

Bulan lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi perbatasan Indonesia-Timor Leste. Tepatnya, saya singgah di Kabupaten Timor Tengah Utara yang beribukotakan Kefamenanu, salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste.

Saya diajak Mas Armin Tan, begitu saya biasa memanggilnya. Ia seorang teman yang memiliki Armin Tan Boxing Camp Tangerang. Di sasana itu beberapa petinju asal Nusa Tenggara Timur bernaung. Salah satunya adalah Tibo Monabesa.

Tibo adalah petinju profesional Indonesia yang saat ini mempunyai peringkat tertinggi baik di Badan Tinju WBA maupun WBC. Ia adalah petinju yang sangat potensial untuk menjadi juara dunia merupakan atlet kelahiran Kefamenanu.

Kami berangkat bertiga dari Jakarta menuju Kupang. Di Kupang telah menunggu satu teman saya dari Surabaya yang juga penggemar tinju dan traveling sama seperti saya dan Mas Armin.

Tujuan kami ke Kefamenanu adalah untuk bertemu Sekda Kabupaten TTU guna membicarakan pertandingan tinju profesional di Kefamenanu. Setelah itu melanjutkan perjalanan menjelajahi destinasi wisata di perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Dari Kupang perjalanan ditempuh lebih kurang 5 jam menuju kota Kefamenanu. Jalanan yang kami lalui lumayan mulus namun berkelok dan terus menanjak. Rupanya Kabupaten TTU ini berada di perbukitan, sehingga semakin ke atas udara pun semakin dingin.

Sepanjang perjalanan ada beberapa spot foto yang menarik. Dengan latar belakang pegunungan yang menguning dan sungai-sungai yang mengering. Karena kami datang pada saat musim kemarau.

Kami tiba di kota Kefamenanu menjelang tengah malam dan langsung istirahat.

Menjelajah Kampung Adat

Rumah adat di Kefamenanu. (foto: Traveltoday Indonesia/ZH)

Di hari kedua, setelah bersilaturahmi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten TTU, kami segera check out hotel dan berkeliling Kota Kefamenanu dengan mobil sewaan. Kami diantar oleh Tibo yang mendadak menjadi tour guide untuk menikmati desa dan rumah adat di kotanya.

Rumah adat TTU beratap ilalang dengan atap kerucut berbentuk lingkaran layaknya dome. Dinding dan tiang utama terbuat dari kayu asli Kefa yang saya lupa namanya namun tahan berpuluh bahkan ratusan tahun. Di dalam rumah ada bale-bale tempat istirahat, kursi dan meja tamu dari kayu serta dapur dan perapian.

Rumah ada TTU dijaga oleh tetua adat yang sangat mengerti dan menjaga kelestarian adat budaya Kefa. Rumah berlantai tanah ini dijaga dan diwariskan secara turun temurun.

Ada tiga rumah adat yang berdekatan. Satu yang terbuka atau tidak berdinding itu buat acara kumpul-kumpul dengan tetangga dan warga sekitarnya, juga tempat bermain anak-anak. Satu lagi yang kecil itu tempat menyimpan hasil panen atau lumbung. Sementara rumah yang paling besar untuk menjadi tempat tinggal.

Namun saat ini semua penduduk Kefamenanu sudah tinggal di rumah modern. Sehingga rumah adat ini hanya untuk wisatawan saja.

Perbukitan Karst di Wini

Selesai beramah-tamah kami melanjutkan perjalan ke Wini. Salah satu kecamatan yang berbatasan langsung dengan eks provinsi termuda di Indonesia yang saat ini telah menjadi negara sendiri, yaitu Timor Leste.

Perjalanan menuju Wini, ditempuh lebih kurang 3 jam. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh. Namun karena jalan yang kecil, berkelok-kelok tajam, turun dan naik membuat sopir kami tidak bisa ngebut dan harus ekstra hati-hati.

Selama perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan perbukitan yang menakjubkan. Pada awalnya terus mendaki namun kemudian jalanan menurun terus berkelak-kelok menyusuri sisi bukit sampai mendekati pantai. Di sanalah kami melihat perbukitan berbatu ditumbuhi pepohonan dan rumput yang menguning tertimpa sinar matahari.

Sementara di pinggir-pinggir jalan terdapat sawah yang menghijau. Berulang kali kami harus berhenti untuk mengabadikan momen yang indah ini. Saya jadi teringat perjalanan menyusuri perbukitan di Swiss dan juga di Maros Sulawesi Selatan namun dalam suasana yang berbeda. Sungguh indah.

Pantai Indah Wini yang Sunyi

Matahari mulai turun. Senja telah menguning. Perbukitan batu yang berada di sebelah kiri kami mulai menghilang digantikan oleh birunya air laut sejauh mata memandang.

Sementara di sebelah kanan kami, bukit-bukit batu kini berwarna jingga tertimpa sinar matahari. Perpaduan birunya laut dan perbukitan yang indah benar-benar memukau mata.

Ikan hasil tangkapan nelayan dijajakan di Pantai Wini. (foto: Traveltoday Indonesia/ZH)

Kami menemukan jajaran pantai berpasir putih yang sunyi tanpa penghuni. Tidak sabar kami parkir kendaraan dan berlarian menuju pasir putih dengan air laut yang sangat jernih. Tampak laut di sini masih sangat bersih. Tak ada sampah plastik yang mencemarinya.

Kami melihat nelayan merapat ke pantai dan melepaskan ikan dari jaringnya. Tak perlu jauh-jauh untuk menjaring ikan di sini. Cukup di sekitar pantai dan tidak perlu waktu lama, mereka sudah mendapatkan beberapa ember ikan.

Kami berjalan menyusuri pantai. Tidak seberapa jauh, kami menemukan beberapa nelayan menjual ikannya di pinggir jalan. Kami terkejut ketika tahu harga yang ditawarkan. Satu tumpuk ikan puluhan ekor mereka hargai 15 ribu rupiah. Sementara ikan yang besar-besar harganya variatif mulai dari 30 ribu sampai dengan 80 ribu. Di Jakarta harganya bisa ratusan ribu rupiah.

Kami membeli dua tumpuk ikan kecil dan seekor ikan besar. Ikan-ikan itu cukup dibakar tanpa perlu bumbu tambahan. Sungguh rasanya sangat lezat. Walaupun berlima, kami tak sanggup menghabiskannya.

Matahari sudah tenggelam, semburat jingga mentari di batas laut sana perlahan memudar. Kami beranjak pergi menuju Atambua. Meninggalkan pantai Wini yang sunyi. (ZH)

LEAVE A REPLY