Menanti ‘Bajingan’ di Pasar Kayu

0
159

Yen pasar ilang kumandange

Yen kali wis ilang kedunge

Yen wong wadon wis ilang wirange  

Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi

Golek wisik songko Sang Hyang Widhi

Tak ada bukti pasti mengapa pasar kayu Sambi Pitu akhirnya gulung tikar. Setelah sanggup bertahan ratusan tahun, kumandang pasar kayu Sambi Pitu mendadak senyap begitu saja.

Memang tidak pernah seramai Pasar Ngalang yang pepak dagangan dari mulai pasar hewan hingga warung makan, pasar kayu Sambi pernah punya ceritanya sendiri.

Posisinya yang berada persis di tepi jalan sibuk Jogja-Wonosari tak terbantahkan lagi menjadi pusat ekomoni warga Desa Bunder. Denyut ekonomi pasar kayu biasanya dimulai sejak Kliwon sore, saat para pedagang bambu, arang kayu, dan kayu bakar mulai menumpuk dagangannya di selasar pasar.

Legi pagi saat jatuh hari pasaran, Mbah Somo dan Mbah Wardoyo biasanya sudah siap ngadang calon pembeli yang datang dari wetan. Wonosari dan sekitarnya. Bambu, areng, dan kayu bakar biasanya diangkut gerobak sapi ke pasar-pasar yang lebih besar di seputaran kota Jogja.

festivalgerobaksapi.com

Ada cerita sendiri soal gerobak sapi yang biasa angkut dagangan ini. Soal penyebutan kusir gerobak sapi ‘bajingan’. Banyak spekulasi beredar soal asal usul penamaan ini.

Ada yang berasumsi bahwa jaman dulu situasi rawan begal. Jadi kusir gerobak sapi yang biasanya membawa barang dagangan harus orang sakti atau paling tidak sama bengisnya dengan para begal.

Ada asumsi lain yang menyebut, dulu gerobak sapi bukan hanya dipakai mengangkut barang tapi juga sarana transportasi manusia. Karena jumlah penumpang dengan gerobak tak seimbang, kadang orang harus menunggu lama gerobak datang.

Begitu gerobak datang, maka si calon penumpang bakal misuh ‘bajingan’.

Tapi yang pasti, urusan ‘bajingan’ ini membuat seorang doktor yang kini berdomisili di Poznan, Polandia, gagah menggugat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Dr Tri Budhi Sastrio menolak rujukan KBBI yang menempatkan kata ‘bajingan’ tepat di bawah kata dasar ‘bajing’ (tupai). Yang berarti setelah diberi akhiran-an, makna kata ‘bajingan’ malah terlempar jauh dari makna semula.

Kata Dr Budhi Sastrio, dengan argumentasi sederhana maka jelas, atau dirasakan jelas, bahwa penyusun KBBI telah melakukan kesalahan. ‘Bajingan’ tidak ada hubungannya dengan ‘bajing’, jadi sudah selayaknya kata ini menjadi lema tersendiri karena memang tidak berasal dari kata ‘bajing’ yang kemudian mendapat akhiran ‘-an’.

Saya kemudian memilih meyakini dugaan yang pertama yang benar. Bahwa sebutan ‘bajingan’ diambil dari asumsi bahwa kusir gerobak sapi harusnya orang yang sama bajingannya dengan para begal.

Selain secara lugas makna kata bajingan merujuk pada kekuatan fisik dan nyali para kusir gerobak sapi, saya lebih suka memahami kata ‘bajingan’ sebagai sapaan yang hangat. Akrab. Sapaan yang mengandung makna duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sederajat. Semacam umpatan ‘jiancuk’ untuk  para arek Suroboyo.

Kembali ke pasar kayu, aktifitas pasaran saat itu membuat ekonomi Desa Bunder dan sekitarnya hidup. Meski barang yang dijual terbatas pada bambu, areng, dan kayu bakar, pasar ini mampu menghidupi orang-orang yang nunut nggolek upo di sekitarnya.

Bu Hadi Sujak yang menjual minyak dan tembako, Mbah Hadi Punjul yang menjual pakaian, dan Mbah Harjo Klumpuk yang menjajakan sayur serta lauk pauk mateng, hanya sedikit nama dari sekian banyak orang yang mencari penghidupan di pasar kayu Sambi.

Khusus untuk nama yang terakhir disebut, warungnya tetap eksis hingga pasar ini benar-benar kehilangan kumandang. Warung Mbah Klumpuk benar-benar tutup bersamaan dengan hilangnya bekas-bekas pasar dari sebidang lahan di bawah pohon Sambi itu.

Hingga akhir 90an, warung makan Mbah Klumpuk masih setia melayani para sopir truk. Setelah pos polisi berdiri, sopir jadi malas mampir ke Sambi. Mungkin menganggap ulo nyedaki pentung, mengingat hubungan sopir-polisi mustahil bisa harmonis.

Di bekas lokasi pasar juga kemudian berdiri toko serba ada yang pamornya ternyata tidak mampu mengembalikan kejayaan pasar kayu jaman dulu.

Sebab fungsi pasar sebagai pusat berkegiatan dan berinteraksi warga satu dengan lainnya tidak hidup lagi setelah pasar kayu tutup usia. Fungsi pasar membangun komunitas berupa masyarakat pasar tidak terjadi di era sekarang.

Dalam hubungan kemasyarakatan di pasar, interaksi antara satu dengan lainnya direalisasikan dalam berbagai kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan sosial kemasyarakatan antara anggota satu dengan lainnya, seperti saling membantu, saling mengunjungi, dan saling simpati antara satu dengan lainnya.

Pasar merupakan fasilitas umum yang boleh digunakan oleh siapa saja, dengan mengikuti aturan atau kesepakatan bersama yang diadakan untuk menghindari terjadinya konflik. Ruang di pasar tidak tercipta secara tiba-tiba atau secara serentak.

Ruang di pasar secara terus-menerus mengalami perubahan yang diakibatkan oleh dinamika kegiatan dan tuntutan para pengguna serta intervensi kepentingan berbagai pihak. Pemanfaatan pasar terbentuk melalui proses konsolidasi antara para penggunanya dan masyarakat secara umum.

Dengan demikian, tatanan fisik ruang  sangat terkait dengan aktivitas yang dilakukan di dalamnya, serta budaya masyarakat.

Berbagai kegiatan yang terjadi di pasar di antaranya adalah kegiatan bakulan, beristirahat, interaksi sosial, membangun persaudaraan, bertukar informasi, bertukar pengetahuan, dan bertukar budaya.

Terjadinya berbagai kegiatan di pasar mengakibatkan timbulnya tatanan ruang yang beragam. Beberapa interaksi dan kegiatan terjadi secara bersamaan dalam ruang bakulan.

Kedekatan dan keakraban antara para pengguna pasar merupakan pemandangan yang biasa di pasar tradisional. Suasana itu yang hilang dalam konsep mall, supermarket, atau minimarket sekalipun.

Dan kumandang pasar kayu Sambi Pitu pun berubah jadi senyap. (*)

LEAVE A REPLY