Mau Dandan Ala Suku Indian? Ada Rochman, Pengrajin Blitar yang Tembus Pasar Dunia

0
79
Foto: static.viva.co.id

Miftakhur Rochman adalah seniman pembuat topeng. Ia mengkhususkan keahliannya pada produksi topeng Indian. Ialah salah seorang pelopor pengrajin topeng khas Suku Indian, Amerika. Ya, karyanya dipamerkan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tepatnya di Desa Jiwut.

Jangan bingung, Traveler. Kampung Indian memang sudah lama ada di Kediri seperti yang pernah Travel Today ulas. Nah, yang ada di Blitar ini adalah tempat pengrajin sekaligus hasil kerajinan topeng ala Suku Indian berada.

Rochman sebelumnya pernah bekerja di salah satu kafe di Bali, namun karena dilanda krisis dan gulung tikar akhirnya Rohman kembali ke desa. Di sinilah ia mulai mengkreasikan topeng indian yang awalnya dipadupadankan dengan bulu ayam dari kemoceng.

Karya Rochman yang unik, apik, dan detil. (Foto: Kemenpar/Facebook)

“Acuan saya waktu itu tidak ada. Saya kreasi sendiri,”  jelasnya seperti dikutip dari Sinarharapan.net. Usaha itu dimulai pada 1999.

Usaha ini banyak menyerap tenaga kerja dari warga desa setempat. Saat ini sudah ada 50 orang karyawan dan dalam sebulan rata-rata bisa memproduksi 3000 topeng Indian.

“Pada dasarnya, saya suka mengotak-atik bulu, yang awalnya adalah bulu kemoceng, dan menggubahnya jadi kerajinan tangan,” tutur Rohman saat ditemui di rumahnya, Blitar, seperti dikutip Tempo.

Rochman menyulap rumahnya seperti galeri. Selain tepees tiruan, diletakkannya juga replika topeng Indian berukuran hampir 2 meter,  ditata mirip pintu gerbang kampung persukuan.

Dinding-dinding ruang tamunya dipenuhi ratusan kerajinan topeng Indian dengan warna bervariasi. Termasuk  topi atau warbonnet yang dibuat dari bulu-bulu.

Kerajinan Topeng Tembus Pasar Dunia

Rumah yang dinamainya pusat Kerajinan Topeng Indian itu kini jadi salah satu alternatif wisata di Blitar. Ia mengaku, cukup banyak wisatawan yang berkunjung. Bahkan, ada yang datang dan tertarik membeli satu set kostum Indian.

Rochman (kanan) sang pengrajin hebat itu. (Foto: cdn-img.jatimtimes.com)

“Kepentingannya untuk hobi, fashion, atau sekadar iseng,” katanya Rochman.

Turis peminat produksinya 80 persen adalah turis asing.

“Awalnya ada permintaan dari turis Prancis. Lalu sekarang pasar utamanya malah untuk orang Indian asli dan diekspor,” tuturnya.

Satu set pakaian ala Indian dijual rata-rata Rp 20 juta. Bahannya dari kulit sapi asli. Bulunya pun dari bulu ayam kampung. Satu bulan, Rochman membutuhkan satu juta ekor ayam kampung untuk diambil bulunya.

Selain bulu ayam jago, Rohman memanfaatkan bulu entok dan kalkun.

“Yang jelas bukan bulu dari hewan yang dilindungi,” ucapnya.

Tak harus beli kostum otentik itu kok, wisatawan yang datang ke industri rumahan dapat berfoto ala Indian memakai warbonnet. Selain di Blitar, galeri Rohman dapat ditemui di Bali, Kediri, dan Batu.

Ke depan, Rochman juga berencana mendirikan Kampung Indian. Wah, hebatnya!

LEAVE A REPLY