Mampir Yuk, di Tiga Pasar Unik Jogja

0
28
Suasana di Pasar Klithikan Pakuncen Jogja (Foto Purwono NA/Traveltoday)

Selain Pasar Beringharjo yang memang sudah berjaya dan dikenal sebagai pasar wisata, di Jogja ada tiga pasar yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Tiga pasar ini unik, karena menyajikan keperluan dan barang-barang yang khas dan sudah menyejarah dalam legenda pasar rakyat Jogja.

Apa saja tiga pasar unik Jogja yang perlu Anda ketahui dan kunjungi, Travel Today Indonesia, mengumpulkannya sebagai berikut:

  1. Pasar Klithikan
Pasar Klithikan Pakuncen, sebuah Pasar Unik Jogja yang menawarkan barang-barang “lawas” yang sudah susah dicari (Foto Purwono NA/Traveltoday)

Pasar Klithikan merupakan pasar yang memang dikhususkan untuk transaksi barang-barang bekas apa saja, dari perangkat elektronik, asesoris, otomotif hingga baju bekas. Bahkan, majalah, kaset dan tulisan stensilan lawas pun sering juga masih tersedia.

Pasar Klithikan Jogja, di era tahun 1960an hingga 1980an pernah merajai dan sempat merusak suasana Kawasan Jalan Mangkubumi Jogja, karena kurang teratur dan memenuhi sisi jalan. Namun pada tahun 2000an, pasar ini ditata sedemikain rupa dan dipindahkan ke daerah Pakuncen, di Jalan HOS Cokroaminoto No. 34.

Sebenarnya, model pasar rakyat yang menjual barang bekas atau sering orang Jawa menyebutnya “klithikan” itu ada di berbagai pelosok kota. Namun, Pasar Klithikan Jogja terbilang unik karena bentuknya yang terpusat atau tersentral, sehingga membuat orang mudah untuk mencari segala keperluan barang “lawas” yang memang ingin dicari.

Maka, tak heran, jika Pasar Klithikan Jogja menjadi salah satu tempat kunjungan favorit bagi mereka para kolektor barang bekas dan pemburu barang unik yang sudah tidak ada lagi di pasaran. Menariknya, sentra “klithikan” ini juga terbilang tetap mempertahankan suasana kerakyatannya, sehingga tidak didominasi oleh sebuah toko besar, namun orang dapat menjual dan bertransaksi secara bebas seperti umumnya pasar tradisional.

2. Pasar Telo

Pasar Telo, Pasar unik Jogja yang menjadi sentra penjualan hasil bumi ketela (Foto Purwono NA/Traveltoday)

Pasar Telo adalah pasar yang khusus menjual hasil bumi ketela. Sehingga pasar ini menjadi unik, karena hanya atau bahkan menjadi sentra penjualan ketela untuk berbagai daerah sekitar Jogja. Bahkan, termasuk satu-satunya pasar di Indonesia yang hanya menjual hasil bumi ketela saja. Pasar Telo pada jam-jam tertentu terbilang begitu ramai, karena pasar ini menjadi pusat bagi para pengolah bahan makanan ketela mencari bahan dasar atau bahan bakunya.

Maka, semenjak malam dan dini hari, Pasar Telo ini selalu dipadati dengan truk yang membawa hasil bumi ketela dari berbagai daerah Jogja. Banyaknya para pengrajin bahan makanan ketela di Jogja, membuat pasar ini menjadi begitu strategis. Letaknya memang tidak di tengah kota, melainkan agak di pinggir Jogja, yaitu di Jalan Menukan, Brontokusuman, Mergangsan.

Pasar Telo ini sudah berdiri dan dikenal sejak tahun 1960an. Pada zaman dahulu, masih ada banyak sekali kios dan lapak yang ikut meramaikan, bahkan mencapai kurang lebih 40an kios. Namun, lambat laun jumlah kiosnya semakin sedikit, seiring dengan perubahan zaman dengan terjadinya proses homoginitas makanan pokok dan berkurangnya para pengrajin makanan ketela. Namun, walaupun berkurang, Pasar Telo tetap menjadi favorit, bahkan hingga sekarang pun masih tetap digunakan sebagai “penanda” bagi mereka yang tinggal di daerah sekitar.

3. Pasar Manuk

Pasar Manuk, atau Pasar Burung, merupakan Pasar unik Jogja yang sering menjadi tempat kunjungan wisata alternatif, karena suasana asrinya (Foto Purwono NA/Traveltoday)

Pasar Manuk, atau umumnya dikenal sebagai Pasar Burung, sudah dikenal lama sebagai sentra perdagangan burung. Awalnya pasar ini dikenal dengan nama Pasar Manuk “Ngasem,” namun karena adanya penataan kawasan “Ngasem” dengan Kawasan Taman Sari sehingga pasar ini dipindahkan dan ditata ulang di Pasar Satwa & Tanaman Hias Yogyakarta atau yang dikenal dengan Pasar PASTY yang sekarang berada di Jalan Bantul KM.1 No.141, Gedongkiwo, Mantrijeron.

Tentu walaupun dipindahkan, karena kawasan “Ngasem” dan Taman Sari menjadi kawasan lindung budaya, Pasar Manuk ini tetap favorit bagi warga Jogja. Bahkan, sekarang areannya lebih luas dibandingkan awalnya di kawasan Pasar Ngasem. Sekarang ada berbagai kios yang tidak hanya menjual satwa burung, melainkan juga hewan peliharaan lainnya, dari ayam hingga anjing.

Pasarnya yang rindang dan asri, membuat pasar ini sering menjadi kunjungan wisata alternatif, apalagi Anda dapat mendengarkan kicauan burung yang saling bersautan indah. Pasar Manuk “Ngasem” yang sekarang dikenal dengan Pasar Satwa & Tanaman Hias Yogyakarta ini menjadi pasar unik di Jogja karena menjadi ruang menawan bagi orang untuk berjalan-jalan menikmati suasana berbeda tentang Jogja.

Tentu di Jogja, Pasar Manuk selalu ramai dan seakan menjadi magnet bagi para lelaki yang konon masih tersirat akar budaya Patrialkal Jawa, bahwa seorang lelaki disebut berhasil jika memiliki 5 hal utama, yaitu rumah, istri, turangga (tunggangan kuda), kuasa (keris), dan burung peliharaan yang disebut dengan “kukila”.

LEAVE A REPLY