Kesegaran Kaledo Khas Donggala yang Diam-Diam Melegenda

0
196
Kuliner khas Donggala, Kaledo, yang semakin populer dan diakui. (foto: http: oatmeal.perutgendut.com)

Kaledo adalah akronim dari ‘Kaki Lembu Donggala’. Kuliner khas Palu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang makin populer saja. Terutama karena menjadi salah satu nominator Anugerah Pesona Indonesia (API) II 2017 sebagai Masakan Tradisional Terpopuler.

Sesuai Wikipedia, Kaki Lembu Donggala atau yang lebih dikenal dengan nama Kaledo ini adalah memang makanan khas masyarakat Donggala. Makanan ini mirip dengan sup buntut, bedanya tulangnya dari kaki lembu dan disajikan bukan dengan nasi melainkan dengan singkong rebus.

Dalam penyajiannya, Anda akan diberi sendok, pisau, dan juga pipet atau sedotan untuk menyeruput sum-sum tulang yang gurih itu. Tulangnya itu sendiri adalah ruas tulang lutut yang masih penuh dengan sum-sum.

Meski Kaledo merupakan akronim dari Kaki Lembu Donggala, ada yang mengatakan, bahwa Kaledo berasal dari Bahasa Kaili, bahasa penduduk Palu. Ka artinya Keras, dan Ledo artinya Tidak, sehingga dapat diartikan “tidak keras”.

Kaledo juga populer di luar wilayahnya, seperti salah satu restoran di Tebet, Jakarta ini. (foto: http: www.anatoemon.com)

Kaledo memang sebenarnya merupakan masakan khas etnis Kaili di Palu, Sulawesi Tengah. Meskipun demikian, belum banyak yang menuliskan Kaledo dari aspek budaya. Berdasar atas keprihatinan tersebut maka Jamrin Abubakar menyatakan dalam Kompasiana telah membuat cerita  mengenai Asal Mula Kaledo di tahun 1999 silam.

Demikan cerita legenda karya Jamrin Abubakar; ada sebuah cerita pada zaman dahulu di wilayah Sulawesi Tengah terdapat orang yang sangat dermawan dan mulia hatinya. Suatu ketika orang tersebut menyembelih sapi dan membagi-bagikan daging sapi tersebut kepada semua penduduk desa setempat.

Ketika acara pembagian daging sapi sudah tiba, orang yang pertama kali mendapatkan daging sapi adalah orang Jawa. Orang Jawa tersebut akhirnya memanfaatkan daging tersebut untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan pentol bakso.

Kemudian, orang yang kedua berasal dari Makassar. Orang Makassar ini tidak mendapatkan daging sapi yang telah di sembelih, akan tetapi ia mendapatkan jeroan (isi perut) sapi, dan kemudian jeroan tersebut di masak sedemikian rupa hingga menjadi makanan yang terkenal dengan nama Coto Makassar.

Sementara itu orang Kaili (suku asli Donggala) datang belakangan dan ia hanya memperoleh tulang-tulang kaki sapi dengan sedikit daging yang menempel pada tulang. Kemudian tulang-tulang tersebut dimasak dan disinilah cikal bakal makanan Kaledo.

Buku karya Jamrin Abubakar yang layak diapresiasi karena berupaya mengangkat dan memperkenalkan budaya Sulawesi Tengah, salah satunya menuliskan legenda Asal Mula Kalado. (foto: http: jamrindonggala.blogspot.co.id)

Berkembangnya usaha kuliner di Kota Palu dalam satu dekade terakhir, kaledo salah satu menu favorit. Bahkan sebuah industri mie instan terkenal pernah memproduksi mie rasa Kaledo seperti halnya mie rasa Coto Makassar.

Hal itu menunjukkan kaledo diakui sebagai brand yang secara ekonomi sangat menguntungkan bagi pemilik warung. Di satu sisi kaledo menjadi bagian diplomasi budaya yang telah mempengaruhi tata sajian makanan pada warga biasa sampai kalangan pejabat dalam perjamuan resmi.

 

LEAVE A REPLY