Festival Komodo 2018 Luar Biasa Jempol! Keragaman Nusantara Padu!

0
154
Foto: www.indonesia.travel

Wow, Traveler. Festival Komodo 2018 memang patut diacungi banyak jempol. Bagaimana tidak, beragam kultur budaya nusantara ditampilkan dalam Festival Komodo 2018.

Anda yang hendak menyaksikan Festival Komodo ini, jangan takut ketinggalan. Festival ini masih terus berlangsung sampai 10 Maret.

Festival ini resmi dibuka, Senin (5/3) lalu, di Lapangan Sepakbola Kampung Ujung, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Yang lebih jempol lagi, Festival Komodo tidak hanya menjadi replika nusantara. Keberagaman dunia juga dihadirkan. Kolaborasi budaya dari beragam etnik ini, semakin memperkuat karakter festival.

Foto: Kemenpar/Facebook

Beragam Budaya Nusantara Bukti Toleransi Masih Tinggi

Sebagai destinasi wisata, Labuan Bajo sangat ramah untuk daerah lain. Mereka juga diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan. Ada paguyuban seni Reog Ponorogo, paguyuban Bima, Makassar, Flores Timur, dan masih banyak lagi.

“Festival Komodo ini luar biasa. Mereka memberikan ruang lebih bagi daerah lain untuk mengenalkan budayanya. Nuansa ini sangat indah. Keberagaman dan toleransi masih terawat sangat baik,” kata Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti, seperti dilansir Kemenpar.

Esthy menilai, toleransi negeri ini masih sangat tinggi. Beragam budaya bersanding saling melengkapi. Kolaborasi ini sangat bagus. Hal ini sebenarnya yang menjadi salah satu value dari festival ini. Meski begitu, daerah di sini tetap menonjolkan ciri khas Komodo.

Foto: www.indonesia.travel

Parade Patung Komodo

Atraksi menawan dari berbagai daerah itu terbukti mampu menyedot wisatawan. Juga saat Parade Patung Komodo. Wisatawan mancanegara maupun nusantara, membludak di venue festival.

Tidak sedikit yang selfie dan langsung meng-uploadnya ke media sosial. Atraksi menawan ini disambut sangat antusias oleh wisatawan. Tak heran jika festival langsung on fire. Padahal, parade dilakukan sebelum pembukaan.

Parade Patung Komodo juga menghadirkan kebudayaan lokal NTT, yaitu tarian caci (tari perang). Tarian ini dimainkan anak laki-laki. Dengan semangat, mereka memperihatkan gerakan-gerakan berperang khas NTT.

Parade Patung Komodo ini dimulai dari depan Rumah Sakit Siloam. Rombongan besar mulai bergerak pukul 15.00 WITA. Para turis bahkan rela berdiri berdesakan di sepanjang jalan sambil mengabadikan momen tersebut.

“Parade Patung Komodo sebelum opening ini sangat menyita perhatian. Para peserta parade ini harus diapresiasi karena berasal dari berbagai latar belakang. Seluruh unsur masyarakat Manggarai Barat ikut dalam parade ini,” lanjut Esthy.

Foto: Kemenpar/Facebook

Wisatawan Terkesima

Sungguh luar biasa Festival Komodo 2018 ini. Mulai Tri Nunundake Kreasi yang dibawakan 80 kids jaman now asal SMP se-Labuan Bajo.

Lalu ritual adat Kapu Manuk. Ritual ini memakai kendi dan ayam putih sebagai simbol kesucian. Lanjut peragaan busana Paguyuban Nagekeo. Dengan kostum adat khas NTT mereka juga membawakan tari Nagekeo.

Belum selesai kekaguman wisatawan, Paguyuban Ngada langsung beraksi. Ciri khas dari paguyuban ini adalah membawa parang plus baju adat khas Ngada.

Yang juga tidak boleh untuk dilewatkan adalah bazar kuliner. Festival Komodo menghadirkan beragam olahan pangan lokal. Favoritnya adalah kue kering dengan olahan bahan dasar jagung, keladi, dan pisang.

Oh iya, aneka jenis tenun khas NTT tidak lupa dihadirkan. Harganya bersahabat kok. Tapi, kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai Festival Komodo sangat menginspirasi.

“Dua jempol untuk konsep festival yang dijalankan. Sangat menginspirasi sekali. Festival Komodo ini mengajarkan pada banyak hal terutama kepada generasi milenial. Keberagaman itu karunia yang harus dijaga. Sekali lagi selamat berpesta di Festival Komodo,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY