Di Pulau Seribu Masjid, 128 Ogoh-ogoh Diarak Menyambut Nyepi

0
97
Ogoh-ogoh yang penuh kreativitas di Mataram Lombok. (Foto: Pu Two/Facebook)

Wow, dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940, 128 Ogoh-ogoh diarak di Pulau Seribu Masjid.  Ya, Lombok adalah pulau itu.

Seratusan peserta parade ogoh-ogoh ini berasal dari Kota Mataram, Lombok Barat dan Lombok Tengah. Panitia melaporkan, seratusan ogoh-ogoh yang diarak tersebut sebanyak 108 peserta dari Kota Mataram, Lombok Barat 16 peserta dan Lombok Tengah 4 peserta.

Menurut suarantb.com, parade ogoh-ogoh itu dilepas langsung Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana.

Disaksikan ribuan warga yang memadati Jalan Pejanggik hingga Jalan Selaparang Kota Mataram. Warga Lombok yang mayoritas Muslim ini menyaksikan pawai ogoh-ogoh dengan antusias di Kota Mataram.

Bukti kehidupan bertoleransi yang mengagumkan. (Foto: Lombok Intrepid/Facebook)

NTB Contoh Toleransi Beragama di Dunia

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Mataram, Ida Made Santi Adnya, SH, MH mengutip pernyataan Wakil Ketua The World Organization For Al Azhar Graduates (WAOG) yang juga mantan Menteri Wakaf Mesir, Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi pada Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Mesir di Islamic Center, 18 Oktober 2017.

Bahwa Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan contoh kehidupan toleransi beragama di dunia.

“Beliau juga mengungkapkan kekagumannya bagaimana kehidupan toleransi agama-agama di NTB. Bahkan beliau anjurkan negara-negara muslim di dunia harus  mencontoh fenomena yang di ada NTB,” katanya.

Tahun lalu, ogoh-ogoh selfie ini menarik perhatian wisatawan. (Foto: suarantb.com)

Pawai ogoh-ogoh ini tak hanya menjadi warisan budaya yang ditunggu-tunggu umat Hindu di Lombok, namun juga umat Islam, dan segenap lapisan masyarakat di Pulau Seribu Masjid ini.

Pulau yang memiliki lebih dari 4.500 masjid ini memang dikenal  dengan kehidupan toleransi beragama yang mengagumkan. Bahkan, ada pula tempat ibadah antarumat yang berdampingan satu dengan lainnya.

Rangkaian Kegiatan

Ida Made Santi menjelaskan pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940 di Kota Mataram dimulai dengan melasti di Pantai Loang Baloq Ampenan. Meskipun hujan lebat tetapi tak menyurutkan semangat dan kekhusukan umat Hindu dalam melaksanakan upacara melasti.

Melasti mengandung makna bagaimana umat Hindu menghilangkan atau menghanyutkan segala kekotoran-kekotoran.

“Baik makrokosmos maupun mikrokosmos,” ujarnya.

Sehari sebelum melaksanakan Nyepi, kata Ida Made Santi,  dilaksanakan upacara Tawur Kesanga yang  dipusatkan di Taman Mayura. Pelaksanaan Tawur Kesanga tersebut diiringi arak-arakan ogoh-ogoh.

“Itu dimaksudkan untuk menghilangkan, mengusir segala roh jahat yang direpresentasikan dengan buta kala,” jelasnya.

Baca: Berwisata Religi ke Pulau Seribu Masjid, Islamic Center Kota Mataram

LEAVE A REPLY