Bedug Kelenteng Sam Po Kong, Sebuah Akulturasi Budaya

0
564
Bedug yang mempunyai nunasa akulturasi budaya yang menarik (Foto Purwono NA/Traveltoday)

Bedug yang berada di Kelenteng Sam Po Kong Semarang merupakan salah satu keunikan yang patut Anda kunjungi. Bedug ini menjadi saksi sejarah mengenai proses akulturasi budaya Nusantara yang menarik.

Namun untuk melihatnya lebih dekat, Anda memang harus masuk ke kawasan Kelenteng Sam Poo Tay Djien, sehingga Anda perlu membeli tiket terusan agar dapat melihatnya secara keseluruhan.

Bedug ini memang seperti bedug pada umumnya yang ada di berbagai masjid di Indonesia, hanya saja warnannya yang unik dan disesuaikan dengan akulturasi budaya Tionghoa. Dalam laman indonesiamedia.com, bedug memang bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya yang unik dan menarik.

Bedug dapat dikatakan sebagai bentuk waditra, yaitu sebuah perbaduan instrumen musik membrafon. Uniknya, bedug merupakan sejenis membrafon  yang berkembang dari paduan membafron seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

Bedug yang berada di Kelenteng Sam Poo Tay Djien di dalam area Sam Po Kong (Foto Purwono NA/Traveltoday)

Travel Today Indonesia mengunjungi Kelenteng Sam Po Kong dan mencoba menelisik kemenarikan bedug yang berwarna merah tersebut. Bedug itu memang seperti pada umumnya bedug, namun letaknya yang ada di dalam kelenteng terbesar, memberikan sebuah pemaknaan tersendiri.

Clara Bertha seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Pastoral yang sedang melakukan studi dengan tamasya lintas agama sangat tertarik dengan adanya bedug di Keleteng Sam Po Kong ini. Ia menyadari bahwa bedug ini menjadi simbol bahwa keberagaman itu merupakan hal yang lumrah di masyarakat Indonesia.

Begitu juga Venantia Nara Reggi yang juga melihat yang sama, bahwa bedug tersebut memberikan teladan interaksi antar sesama, dengan tidak mengesampingkan perbedaan – perbedaan. Ia merasa dapat belajar dari sejarah kedatangan Cheng Ho dan berdirinya Sam Poo Kong ini untuk menghormati kemajemukan, melestarikan budaya dan keberagaman.

Beberapa mahasiswa dari Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik St. Fransiskus Semarang yang belajar tentang kemenarikan bedug Sam Po Kong (Foto Purwono NA/Traveltoday)

Dalam laman kompasiana.com, Teguh Hartono Patriantoro mengungkapkan bahwa konon keberadaan bedug itu merupakan wujud penghormatan terhadap Pemerintahan Jin Bun (1475-1518) yang telah membebaskan Warga Tionghoa dari tekanan tuan tanah. Bentuk penghormatan itu, lalu diwujudkan dengan membangun teras di atas Gua Batu, lalu meletakkan Bedug sebagai bukti bahwa Kelenteng tersebut milik warga Tionghoa beraliran Muslim Mazhab Hanafi.

LEAVE A REPLY