7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja

1
591
ceret khas di angkringan tradisional Jogja (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Pernahkah Anda para traveler mampir di Angkringan tradisional? Tentu, bahkan mungkin sering jika ingin menikmati kuliner murah meriah ini ketika di Jogja.

Namun, kadang kita jarang memperhatikan beberapa hal yang tidak pernah berubah dan seakan menjadi semacam “credo” dan legenda bagi para pedagang angkringan tradisional di Jogja. Apa saja yang melegenda dan seakan menjadi trademark angkringan tradisional Jogja ini. Traveltoday mengemasnya sebagai berikut:

  1. Gerobak Kayu
IMG 20171124 164155 - 7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja
Gerobak yang khas di angkringan Jogja (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Hampir semua angkringan tradisional Jogja mempergunakan gerobak kayu yang khas dan melegenda sejak zaman dulu. Bahkan, gerobak ini dilengkapi dengan bangku dan papan untuk Anda melahap makanannya.

Konon gerobak ini dipopulerkan sejak tahun 1950an oleh seorang Mbak Pairo, yang dikenal dengan “Ting-Ting Hik”. Mbah Pairo adalah seorang pioner pedagang angkringan dari Cawas Klaten yang berjualan di seputar kawasan Stasiun Tugu Jogja.

2. Ceret 

IMG 20171124 164055 - 7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja
ceret wedang yang selalu ada di angkringan Jogja (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Angkringan tradisional Jogja juga khas dengan ceret atau tempat minum tempo dulu yang terbuat dari galvanis dan stanless steel atau baja nirkarat, baik yang tebal maupun tipis. Ceret ini biasanya untuk menjaga agar air tetap panas, atau orang menyebutnya wedang.

Biasanya, ceret dipanggang diatas tempat pemanas yang khas dengan mempergunakan arang. Pemanggang arang digunakan agar air  tetap panas dengan waktu yang relatif lama dan lebih murah dari pada mempergunakan minyak tanah atau gas.

3. Sego Kucing

IMG 20171124 163843 - 7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja
Sajian sego kucing atau nasi bungkus kecil ala angkringan Jogja (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Sego kucing adalah nasi bungkus yang biasanya ukurannya terbilang kecil. Biasanya, nasi dan lauknya dibungkus dengan daun pisang yang dilapisi kertas koran atau kertas pembungkus nasi. Menunya biasanya beragam, ada nasi bungkus sambal teri, oseng tempe, oseng ayam, oseng tahu dan masih banyak lagi.

Ukuran nasi yang terbilang kecil, satu jumput nasi, konon mengingatkan seperti orang ketika memberi makan kepada kucing. Menu nasi yang relatif kecil ini juga dikaitkan dengan singkatan “HIK”, yang merupakan kependekan dari “Hidangan Istimewa Kampung.”

4. Ragam Wedang

IMG 20171124 163817 - 7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja
Wedang jahe sebagai salah satu dari aneka minuman yang disajikan (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Wedang adalah istilah Jawa yang digunakan untuk mengatakan minuman air hangat. Biasanya, minuman hangat atau wedang yang ditawarkan adalah dari wedang jahe, susu, jeruk, kopi hingga teh yang “nasgitel” (panas, legi, kentel; artinya minuman teh yang panas, manis rasanya dan kental rasa tehnya).

Ragam minuman hangat atau wedang ini biasanya sangat mempengaruhi dan menjadi kompetisi dari sebuah angkringan. Biasanya, pelanggan akan memilih angkringan yang menyajikan wedang jahe atau tehnya yang enak. Walaupun di angkringan juga tersedia minuman dingin dengan es batu, namun itu bukan pilihan utama pelanggan.

5. Ceker dan kepala ayam

IMG 20171124 163903 - 7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja
Ceker ayam yang biasanya tersaji di angkringan Jogja (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Namanya saja, angkringan, maka menunya pasti menu rakyat dan selera rakyat. Maka, potongan ayam yang disajikan adalah seputar ceker (kaki ayam) dan kepala ayamnya.  Sajian ceker dan kepala ayam biasanya ada yang digoreng dan dibacam.

Beberapa pelanggan angkringan, kadang lebih suka ceker dan kepala ayam itu dibakar mempergunakan arang agar semakin enak. Tentu, olahan makanan ceker sudah menyejarah dan menjadi hidangan kuliner rakyat Asia, salah satunya adalah Dim sum.

6. Gantungan makanan ringan

IMG 20171124 163650 - 7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja
Gantungan makanan kecil di angkringan Jogja (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Hal yang ikonik di angkringan tradisional, adalah gantungan beberapa macam makanan ringan, dari jagung marning, kacang, kedelai, hingga keripik. Biasanya, makanan ringan ini digantung sedemikian rupa menghiasi suasana angkringan.

Bungkusnya yang kecil, dengan porsinya yang secumput saja, membuat harganya terbilang sangat murah, dari Rp.500 hingga Rp. 1000 per bungkusnya. Biasanya disusun dengan satu renteng di atas kayu gerobak.

7. Ragam Gorengan dan Bacaman

IMG 20171124 163947 - 7 Hal yang Khas di Angkringan Tradisional Jogja
Aneka gorengan yang biasanya tersaji di angkringan Jogja (Foto Purwono Nugroho Adhi)

Macam ragam gorengan juga menjadi menu sajian yang favorit bagi para pelanggan angkringan. Gorengan biasanya terdiri dari tempe mendoan, tahu susur, gembus (ampas dari kedelai) baik yang goreng maupun bacam. Konon, berbagai sajian jajanan itu, ada hubungannya dengan santapan “gi lo gi lo jajane teko” (ini lho, sekarang jajanan sudah datang), atau orang mengenalnya dengan “Gilo-gilo” yang dipopulerkan oleh para pedagang Ngerangan, Bayat, Klaten sejak lama.

Gorengan dan bacaman ini, terbilang wajib bagi para penyaji angkringan tradisional. Hal itu dikarenakan, gorengan dan bacaman biasanya menjadi lauk untuk mengiringi pelanggan menyatap sego kucing yang memang menjadi menu utamannya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY