50.000 Wisatawan di Pekan Budaya Tionghoa, Bukti Yogyakarta Masih Ada Toleransi

0
133
Foto: presidentpost.id

Pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2018, sukses datangkan wisatawan. Tidak kurang dari 50.000 wisatawan menyaksikan rangkaian pembukaan.

“Berdasarkan data yang masuk ke kita, jumlah wisatawan yang hadir pada pembukaan ini mencapai 50.000 orang. Pengunjung sudah ramai sejak sore,” tutur Ketua Umum Pekan Budaya Tionghoa, Tri Kirana Muslidatun, seperti dilansir Kemenpar.

Istri Walikota Yogyakarta itu menambahkan, jumlah 50.000 wisatawan itu adalah gabungan dari rangkaian acara pembukaan pada Sabtu (24/2) lalu. Acara digelar di Jalan Malioboro, Kampung Ketandan, dan Alun-alun Utara Keraton.

“Pembukaan PBTY 2018 ini ada rangkaiannya. Mulai dari persiapan di Abu Bakar Ali, karnaval, hingga berbagai atraksi di Alun-alun Utara. Juga kunjungan wisatawan di Kampung Ketandan,” tuturnya.

Foto: www.indonesiatrue.com

Menurut Tri Kirana, jumlah tersebut sesuai target. “50.000 itu baru hari pertama ya, baru pembukaan. Tapi setiap hari PBTY ini selalu menghadirkan 10.000 wisatawan. Dan jumlah itu rutin sejak awal pelaksanaan,” terangnya.

Yogyakarta Masih Ada Toleransi

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengatakan kegiatan ini membuktikan jika Yogyakarta masih toleran.

“Ini bukti Yogyakarta masih ada toleransi. Kegiatan ini menjadi bukti jika kita masih solid. Dan semoga PBTY membuat kita semakin kuat,” tutur Sultan saat membuka secara resmi Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta.

Meski menjadi bagian dari perayaan Imlek dan Cap Go Meh, budaya nusantara ditampilkan dalam kegiatan itu. Salah satu atraksi yang menarik perhatian adalah aksi grup tari Praginagong Yogyakarta.

8 Penari Praginagong menggabungkan berbagai tarian nusantara dalam pementasannya. Mulai dari Aceh, Medan, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, bahkan hingga Papua.

Foto: infopublik.id

Namun, atraksi yang paling ditunggu masyarakat Yogyakarta adalah drumband Gita Dirgantara milik Akademi Angkatan Udara. Drumband ini menampilkan banyak formasi dengan sangat enerjik. Diantaranya membuat formasi menara dari drum.

Sebelum pesta kembang api menutup rangkaian acara, tampil naga sepanjang 150 meter. Aksi naga tersebut dibawakan secara bergantian oleh 200 orang. Naga ini telah tercatat dalam MURI.

Jadi Event Pariwisata

Menurut Kabid Pemasaran Area I (Jawa) Wawan Gunawan, perlu keseriusan untuk menggarap event ini agar menjadi event pariwisata.

“Tentunya dengan mengedepankan kriteria-kriteria yang dibutuhkan dalam mengemas sebuah event. Hal itu dimaksudkan agar event tersebut bisa menjadi skala nasional bahkan internasional,” tuturnya.

Menurutnya, Menteri Pariwisata sering menyampaikan perlunya kurator atau maestro yang mumpuni di bidangnya. “Jadi, koreografi, musik, kostum, pola penyajian, dan struktur pertunjukan mempunyai kualitas yang baik,” tuturnya.

LEAVE A REPLY